JAKARTA – Hubungan yang diwarnai konflik dan tekanan emosional tidak hanya merusak kesehatan mental, melainkan juga berimbas pada kondisi fisik.
Para ahli menyatakan bahwa stres berkepanjangan akibat hubungan yang tidak sehat mampu memaksa tubuh terus berada dalam "mode bertahan hidup" (fight or flight), sehingga fungsi-fungsi penting tubuh menjadi terganggu.
Berdasarkan laporan The Independent pada Senin (6/7/2026), seorang ahli nutrisi penyakit autoimun dan praktisi functional medicine bernama Muriel Wallace-Scott menerangkan bahwa tekanan kronis dari hubungan toksik dapat merusak sistem saraf, imunitas, hingga keseimbangan hormon.
"Kondisi tubuh saat itu memprioritaskan untuk bertahan hidup, bukan berkembang," ujar Wallace-Scott.
Wallace-Scott memaparkan bahwa saat seseorang terus-menerus menghadapi konflik atau tekanan dalam hubungan, tubuh akan berada dalam kondisi siaga layaknya menghadapi ancaman.
Pada situasi tersebut, energi tubuh dialihkan demi bertahan hidup, bukan untuk menjalankan fungsi harian yang semestinya.
"Itu berarti tubuh tidak lagi memprioritaskan hormon, siklus menstruasi yang sehat, fungsi tiroid, atau mencerna makanan dengan baik. Energi justru dialihkan ke otot agar kami siap melarikan diri," katanya.
Menurut Wallace-Scott, mekanisme alami menghadapi bahaya ini awalnya normal. Namun, jika terjadi terus-menerus, dampaknya akan merusak kesehatan secara menyeluruh.
Lebih lanjut, Wallace-Scott menyebutkan bahwa sistem imun bekerja sangat erat dengan sistem saraf. Ketika seseorang terus berada dalam kondisi waspada atau hypervigilance, respons imun juga dapat berubah.
"Ketika berada dalam kondisi seperti itu, sistem imun cenderung bereaksi berlebihan terhadap ancaman yang sebenarnya kecil," jelasnya.
Wallace-Scott menambahkan bahwa kondisi tersebut dapat mengganggu respons peradangan tubuh, sehingga berpotensi memperburuk penyakit autoimun seperti lupus atau penyakit Crohn.
Laporan itu juga memuat pengalaman Becca Scott, seorang praktisi kesehatan perempuan yang pernah didiagnosis mengalami chronic fatigue syndrome atau sindrom kelelahan kronis setelah bertahun-tahun menjalani pernikahan yang penuh tekanan.
Scott mengaku mengalami jantung berdebar, kelelahan ekstrem, hingga kesulitan berdiri dalam waktu lama. Namun, gejala tersebut berangsur menghilang setelah ia mengakhiri hubungannya.
"Saya tiba-tiba mendapatkan kembali tenaga saya. Rasanya seperti lampu yang kembali menyala," ujarnya.
Scott juga mengatakan penyakit Crohn dan Hashimoto yang telah ia alami sejak kecil menjadi lebih berat ketika hidup dalam hubungan yang penuh konflik.
Wallace-Scott menjelaskan stres kronis juga membuat tubuh terus memproduksi hormon kortisol. Jika berlangsung terlalu lama, kondisi ini dapat menyebabkan kelelahan, brain fog, menurunnya daya tahan tubuh, hingga membuat seseorang kehilangan energi untuk beraktivitas.
"Kalau tubuh terus menghasilkan kortisol, seseorang bisa merasa sangat lelah, mengalami brain fog, dan menjadi kurang tangguh menghadapi tekanan," katanya.
Akibatnya, seseorang bisa berhenti berolahraga, lebih sulit pulih dari penyakit, atau merasa semakin bergantung pada pasangan karena kondisi fisiknya memburuk.
Dalam laporan tersebut, Wallace-Scott menilai hubungan yang sehat seharusnya menjadi tempat seseorang beristirahat dan memulihkan diri dari tekanan sehari-hari.
"Rumah dan hubungan seharusnya menjadi tempat yang aman untuk memulihkan diri. Ketika seseorang tidak bisa benar-benar beristirahat dan mencerna pengalaman hidupnya dengan tenang, dampaknya bisa sangat besar bagi kesehatan," ujarnya.
Laporan itu juga mengutip sejumlah temuan penelitian yang menunjukkan bahwa orang yang mengalami stres berat atau trauma memiliki risiko 36 persen lebih tinggi mengalami penyakit autoimun, seperti rheumatoid arthritis, lupus, psoriasis, Hashimoto, dan penyakit Crohn.
Selain itu, penelitian yang dipublikasikan pada 2010 menemukan bahwa hubungan yang buruk berkaitan dengan peningkatan risiko kematian hingga 50 persen, dampak yang disebut sebanding dengan kebiasaan merokok sekitar 15 batang rokok per hari.
Meski demikian, Wallace-Scott menekankan masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk memahami secara lebih mendalam hubungan antara stres akibat relasi yang tidak sehat dan berbagai penyakit fisik.
Namun, menurutnya, menjaga hubungan yang aman dan suportif merupakan bagian penting dalam menjaga kesehatan secara menyeluruh.