Polandia Kehilangan USD 230 Juta Kripto Saat Coba Beli Minyak Venezuela

Kamis, 17 September 2026 | 17:10:00 WIB

GLOBALINVESTOR.ID — Upaya Polandia membeli 6 juta barel minyak mentah Venezuela berakhir dengan kerugian USD 230 juta dalam bentuk kripto. Dana yang disalurkan lewat stablecoin USDT itu hilang di berbagai tahap transaksi, sementara tiga kapal tanker Polandia terkatung-katung di perairan Venezuela.

Grup energi milik negara Polandia, Orlen, menyiapkan USD 600 juta untuk membeli minyak Venezuela pada 2023, memanfaatkan jeda sanksi Amerika Serikat. Transaksi itu dilakukan melalui perusahaan perantara Hannon, yang kemudian menggandeng firma Inggris Lexcor Energy. Alih-alih mengirim uang lewat jalur perbankan, mereka memilih stablecoin USDT dengan asumsi 1 USD setara 1 USDT.

Pilihan itu membawa konsekuensi mahal. Sebanyak USD 230 juta dalam bentuk kripto tidak dapat dipertanggungjawabkan di sejumlah titik transaksi. Financial Times mencatat rangkaian kejadian ini sebagai salah satu upaya pembelian minyak paling berantakan dalam beberapa tahun terakhir.

Konversi Dolar ke USDT di Dubai yang Tidak Mulus

Hannon perlu mengubah dana besar menjadi USDT sebelum bisa dipakai bertransaksi. Perusahaan itu menukar USD 245 juta di sejumlah perusahaan di Dubai, ditambah USD 15 juta dana sendiri. Dari tiga transfer senilai USD 80 juta, hanya satu yang berhasil penuh menjadi 80 juta USDT.

Transfer kedua, senilai USD 135 juta, hanya menghasilkan 85 juta USDT. Sebanyak USD 50 juta menguap tanpa jejak. Transaksi ketiga senilai USD 30 juta juga sempat hilang, meski sebagian dana kembali jauh belakangan. Posisi rugi Hannon saat itu mencapai USD 80 juta, dengan 165 juta USDT masih di tangan.

Perjalanan ke Venezuela dan Rekening yang Menguap

Perwakilan Hannon, Kam Tse, terbang ke Venezuela bersama seorang kolega. Mereka membawa USDT yang disimpan di beberapa cold wallet berbentuk USB. Selama di sana, keduanya menginap di hotel mewah, berkeliling dengan mobil lapis baja, dan menyewa pengawal pribadi karena khawatir akan keselamatan diri dan dana yang dibawa.

Tse bertemu banyak broker yang mengaku mewakili PDVSA, perusahaan energi negara Venezuela. Investigasi lokal kemudian mengungkap sebagian dari mereka adalah penipu, dan banyak yang kabur saat penyelidikan dimulai. Tim Polandia tetap melanjutkan transaksi.

Mereka menyerahkan 60 juta USDT dalam sebuah dompet USB kepada seseorang yang mengaku perwakilan Synergy, perusahaan energi lokal. Beberapa pekan menunggu, kantor di Venezuela mengirim foto jadwal ekspor PDVSA yang menunjukkan tiga kapal tanker Polandia akan diisi masing-masing 1,9 juta barel minyak. Tidak ada tanggal pasti dalam jadwal itu.

Tim Tse kemudian menyerahkan 50 juta USDT lagi kepada perwakilan Synergy lewat dompet USB lain. Orang itu hilang tanpa jejak. Posisi rugi melonjak ke USD 190 juta.

Minyak Terkontaminasi dan Pengiriman yang Tak Pernah Tiba

Dalam kondisi terdesak, Tse memerintahkan pembelian 1 juta barel minyak campuran ringan. Hasilnya minyak itu terkontaminasi. Ia beralih ke minyak bakar dan menandatangani kontrak baru. Sebagian dana dari transaksi Dubai akhirnya kembali, meski hanya 21 juta USDT dari USD 30 juta yang disetor.

Tse membayar Consulting Services, firma Venezuela lain, 11 juta USDT untuk minyak bakar. Sebanyak 500.000 barel berhasil dimuat ke satu kapal, separuh dari jumlah yang dikontrakkan. Ia lalu mengirim 11 juta USDT lagi untuk sisa minyak, tetapi pengiriman itu tidak pernah terjadi dan kontak terputus.

Total kerugian kumulatif mencapai USD 186 juta. Ditambah biaya pengapalan USD 72 juta yang jauh melampaui proyeksi keuntungan, plus pengeluaran lain, investigasi pemerintah Polandia menghitung total dana yang hilang dan terpakai mencapai USD 424 juta.

Blockchain Bukan Penyebabnya

Reaksi pertama banyak orang mungkin menyalahkan kripto sebagai alat pembayaran yang sulit dilacak. Kenyataannya tidak demikian. Buku besar on-chain justru menawarkan visibilitas transaksi yang lebih besar dibanding banyak mata uang konvensional.

Yang gagal adalah absennya catatan resmi yang menghubungkan dompet kripto dengan pemiliknya. Bursa kredibel umumnya menerapkan verifikasi identitas atau KYC yang diwajibkan hukum. Masalahnya, hampir tidak ada entitas yang bertransaksi dengan Hannon punya bukti sah bahwa dompet kripto itu milik mereka.

Para penjual minyak Venezuela menghilang, memutus hampir semua jalur investigasi. Sebelum transaksi terjadi, mereka bahkan menyarankan Tse untuk tidak menyimpan catatan transaksi dengan alasan adanya penyelidikan pemerintah terhadap kegiatan kelompok mereka.

Di Dubai, perkara pengadilan soal konversi dolar ke USDT bergantung pada persoalan yang sama, meski ada bukti transaksi bank yang bisa diverifikasi. Sistem hukum setempat membebankan pembuktian sepenuhnya pada pihak yang menuduh. Hannon harus membuktikan kepemilikan dompet sebelum perkaranya bisa dibahas lebih jauh.

Beban itu nyaris mustahil dipenuhi. Seseorang tidak bisa membuktikan sesuatu yang tidak ada kaitannya dengan dompet mereka. Dua bursa yang tersangkut perkara di pengadilan juga baru berdiri dan kemungkinan bukan bagian dari program VARA Dubai untuk operasi kripto legal.

Terkini