Startup NATO Kembangkan AI untuk Drone Serang Target Otomatis di Medan Perang

Startup NATO Kembangkan AI untuk Drone Serang Target Otomatis di Medan Perang

GLOBALINVESTOR.ID — Perusahaan rintisan bernama Scaleout Systems mengembangkan teknologi AI yang memungkinkan drone kecil mendeteksi dan menyerang target secara otonom di medan perang. Teknologi ini mendapat dukungan NATO dan telah diterapkan di sejumlah pangkalan militer Eropa, menandai pergeseran signifikan dalam cara perang modern dilakukan.

Scaleout Systems didirikan oleh para peneliti dari Universitas Uppsala, Swedia, pada 2018. Awalnya, perusahaan ini fokus pada pelatihan dan penerapan model pembelajaran mesin langsung di perangkat keras yang tersedia pada truk komersial dan kendaraan lain.

Namun setelah Rusia melancarkan invasi besar-besaran ke Ukraina pada 2022, Scaleout mengalihkan fokus ke aplikasi pertahanan. Perusahaan melihat peluang besar untuk menerapkan teknologi edge computing dan data sensor bagi kepentingan militer.

Dari Truk Komersial ke Drone Tempur

Teknologi yang dikembangkan Scaleout memungkinkan drone kecil menjalankan model AI secara mandiri tanpa bergantung pada koneksi ke pusat data. Artinya, drone bisa mengidentifikasi dan memilih target di medan perang secara otonom.

Pendekatan ini disebut decentralized AI-driven learning, yakni sistem pembelajaran terdesentralisasi yang tersebar di berbagai pangkalan militer dan drone. Model AI dilatih dan diperbarui langsung di perangkat, bukan di server terpusat.

Andreas Hellander, salah satu pendiri sekaligus CEO Scaleout Systems, menyatakan bahwa perang di Ukraina dan perubahan lanskap global membuat perusahaan menyadari pentingnya teknologi ini. Menurutnya, kemampuan mengoperasionalkan data edge dan sensor untuk pembelajaran mesin dapat memberikan keunggulan strategis bagi negara-negara anggota NATO.

Bagaimana AI Bekerja di Drone Kecil

Drone yang dilengkapi teknologi Scaleout dapat memproses data sensor secara real-time di atas perangkat itu sendiri. Model AI yang tertanam mampu mendeteksi objek, mengklasifikasikan target, dan mengambil keputusan serangan tanpa campur tangan operator manusia secara langsung.

Kemampuan ini berbeda dari sistem drone konvensional yang masih mengandalkan transmisi data ke pusat komando. Dengan AI yang berjalan di perangkat, latensi berkurang drastis dan drone bisa beroperasi di lingkungan dengan konektivitas terbatas atau bahkan tanpa koneksi sama sekali.

Scaleout mengembangkan teknologi ini dengan dukungan pendanaan dan akses dari NATO. Perusahaan berfokus pada penerapan model pembelajaran mesin yang ringan sehingga bisa berjalan di perangkat keras dengan daya komputasi terbatas seperti drone ukuran kecil.

Implikasi bagi Perang Modern

Penggunaan AI otonom dalam sistem senjata memunculkan pertanyaan etis dan hukum yang serius. Sejumlah organisasi internasional telah menyerukan moratorium pengembangan senjata otonom yang bisa memilih dan menyerang target tanpa keputusan manusia.

Namun bagi negara-negara NATO, teknologi ini dianggap sebagai kebutuhan mendesak untuk menghadapi tantangan perang modern. Konflik di Ukraina menunjukkan bagaimana drone murah dan AI dapat mengubah dinamika pertempuran secara signifikan.

Scaleout bukan satu-satunya perusahaan yang bergerak di bidang ini. Sejumlah startup pertahanan Eropa dan Amerika Serikat juga berlomba mengembangkan sistem serupa, menandai tren baru dalam industri pertahanan global.

Hingga kini, belum ada informasi mengenai apakah teknologi Scaleout akan tersedia untuk pasar di luar NATO atau bagaimana regulasi ekspornya. Perusahaan belum mengungkap detail spesifik mengenai kemampuan sistem atau klien militernya.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index