Wall Street Menguat, Dow Jones Naik 318 Poin Usai The Fed Naikkan Suku Bunga

Wall Street Menguat, Dow Jones Naik 318 Poin Usai The Fed Naikkan Suku Bunga

GLOBALINVESTOR.ID — Indeks Dow Jones Industrial Average naik 317,95 poin atau 0,62 persen ke 51.779,85 pada Kamis (17/9), disusul S&P 500 yang menguat 1,14 persen ke 7.637,74 dan Nasdaq Composite melesat 1,69 persen ke 26.418,30. Penguatan terjadi sehari setelah The Fed menaikkan suku bunga acuan untuk pertama kalinya sejak Juli 2023, dengan pasar kini memperkirakan peluang kenaikan lanjutan 25 basis poin pada Oktober sebesar 53,1 persen.

Kenaikan suku bunga The Fed sempat menekan pasar, tetapi investor memilih masuk kembali ke saham-saham yang harganya tertekan. Harga minyak mentah yang turun ke level terendah dalam sepekan dan imbal hasil US Treasury yang melandai memberi ruang bagi reli di lantai bursa.

Data klaim tunjangan pengangguran AS yang turun mendekati level terendah sejak 1969 memperkuat keyakinan bahwa ekonomi masih cukup kuat menyerap pengetatan moneter. Indeks Volatilitas CBOE (VIX) pun menyentuh titik terendah dalam lebih dari sepekan.

Rincian Pergerakan Tiga Indeks Utama

Dow Jones Industrial Average (.DJI) ditutup menguat 317,95 poin atau 0,62 persen menjadi 51.779,85. S&P 500 (.SPX) naik 85,93 poin atau 1,14 persen ke 7.637,74.

Nasdaq Composite (.IXIC) mencatat kenaikan terbesar, yakni 439,87 poin atau 1,69 persen, ke level 26.418,30. Reli dipimpin saham teknologi yang menjadi motor penguatan hari itu.

Robert Pavlik, manajer portofolio senior di Dakota Wealth, Fairfield, Connecticut, menilai investor tengah memburu sektor-sektor yang sebelumnya terpukul keras. "Dan orang-orang mulai masuk, melakukan sedikit pembelian saat harga terkoreksi," ujarnya.

Sektor Teknologi dan Semikonduktor Pimpin Penguatan

Sektor teknologi (.SPLRCT) mencatat kenaikan persentase terbesar di antara 11 sektor utama S&P 500. Saham tambang emas dan perak (.XAU) serta semikonduktor (.SOX) menguat lebih dari 3 persen.

Saham perbankan yang sensitif terhadap suku bunga (.SPXBK) berakhir stabil dengan kenaikan tipis 0,2 persen, setelah merosot 2,3 persen pada Rabu. Sektor keuangan (.SPSY) dan barang kebutuhan pokok konsumen (.SPLRCS) justru ditutup melemah meski tipis.

Saham pembangunan rumah (.SPCOMHOME) naik 1,1 persen seiring data perumahan yang menunjukkan aktivitas pembangunan dan penjualan rumah dalam proses meningkat. Saham terkait kripto juga melonjak setelah SEC memberi pengecualian lima tahun untuk perdagangan saham yang ditokenisasi.

Circle Internet Group (CRCL.N) dan Coinbase (COIN.O) masing-masing naik 5,8 persen, sedangkan Robinhood (HOOD.O) menguat 5,2 persen. Di sisi lain, CoreWeave (CRWV.O) turun 4,2 persen usai mengumumkan rencana penghimpunan modal, dan Fluence Energy (FLNC.O) anjlok 15,4 persen setelah memangkas proyeksi pendapatan fiskal 2026.

Mengapa The Fed Menahan Diri dari Kejutan

Pada Rabu (16/9), para pembuat kebijakan The Fed sepakat menaikkan target suku bunga dana federal untuk pertama kalinya sejak Juli 2023. Bank sentral menyatakan komitmen mengembalikan inflasi ke target 2 persen, membuka peluang pengetatan lanjutan tahun ini.

Ross Mayfield, analis strategi investasi di Baird, Louisville, Kentucky, menyebut pasar lega karena The Fed menunjukkan kesatuan sikap. Ketua The Fed Kevin Warsh juga menegaskan kembali independensi bank sentral dalam konferensi pers.

Warsh menyampaikan ekonomi AS berada dalam kondisi kuat dan stabilitas harga tidak harus mengorbankan pasar tenaga kerja. Pandangan itu sejalan dengan data ketenagakerjaan yang solid.

Tekanan Minyak dan Proyeksi Suku Bunga Berikutnya

Harga minyak sempat turun ke level terendah sepekan setelah kekhawatiran gangguan pasokan mereda, menyusul laporan bahwa minyak Arab Saudi bergerak melalui Oman. Kerugian itu menyusut seiring situasi Timur Tengah yang tetap tegang.

Harga energi melonjak sejak perang AS-Israel melawan Iran, yang turut menambah tekanan inflasi global. Mayfield menyebut guncangan harga minyak sebagai satu-satunya hambatan besar bagi ekonomi global saat ini.

Pasar keuangan kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga 25 basis poin pada pertemuan The Fed Oktober mencapai 53,1 persen. Angka itu naik dari 27,2 persen sepekan sebelumnya, menurut alat FedWatch milik CME.

Volume perdagangan di bursa AS mencapai 17,57 miliar saham, di atas rata-rata 15,37 miliar saham per sesi dalam 20 hari terakhir. Di NYSE, saham yang menguat lebih banyak dari yang melemah dengan rasio 2,38 banding 1.

Bagi investor Indonesia, arah suku bunga The Fed tetap menjadi acuan utama untuk memantau pergerakan capital inflow ke pasar emerging, termasuk IHSG dan obligasi negara. Peluang kenaikan lanjutan pada Oktober berpotensi menahan laju penguatan rupiah dalam beberapa pekan ke depan.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index