Kementan Minta BUMN dan Koperasi Serap Telur Peternak yang Anjlok

Kementan Minta BUMN dan Koperasi Serap Telur Peternak yang Anjlok
Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Kementan, Muhammad Agung Sunusi. (Foto: NET)

JAKARTA — Kementerian Pertanian (Kementan) mengimbau pemerintah daerah untuk berkolaborasi dengan koperasi dan BUMN pangan guna menampung hasil produksi telur ayam ras di tengah tren penurunan harga yang meluas di berbagai tempat.

Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Kementan, Muhammad Agung Sunusi mengungkapkan bahwa pemerintah daerah sepantasnya mendayagunakan koperasi maupun BUMN pangan demi menyerap komoditas telur saat nilai jual di tingkat peternak merosot.

“Stabilisasi pasar, bila ada ini karena harga turun, mungkin mohon izin Pak Gubernur, Bupati, Wali Kota, untuk melakukan penyerapan telur oleh BUMN, maupun koperasi, karena beberapa daerah memang terjadi penurunan yang signifikan untuk harga telur ayam ras ini,” ujar Agung saat menghadiri Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah secara daring lewat kanal YouTube Kemendagri, Senin (6/7/2026).

Di luar langkah penyerapan tersebut, Kementan pun bakal memperkokoh jalur logistik antardaerah. Agung memaparkan bahwa masih ada beberapa tempat yang mencatatkan harga telur cukup tinggi, sehingga pemerataan pasokan lewat sistem pooling telur dari wilayah sentra ke wilayah konsumen sangat diperlukan.

“Dan tentunya menjadi perhatian, tadi masih ada wilayah-wilayah yang mahal, kami juga akan mendorong distribusi antar wilayah kepada teman-teman Bapanas untuk skema pooling telur dari sentra produksi ke wilayah konsumsi," ucapnya.

Agung mengutarakan bahwa Kementan pun konsisten menjalankan mitigasi jangka pendek supaya deflasi harga telur tidak bergulir terlalu lama. 

Skema itu ditempuh melalui proteksi hasil produksi, garansi pasokan pakan serta day old chick (DOC), sekaligus asistensi teknis kepada para peternak demi menjaga kestabilan tingkat produksi.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pergerakan harga telur ayam ras terus merosot pada pekan awal Juli 2026. Di skala nasional, rata-rata nilai jual telur ayam ras menyentuh angka Rp29.320 per kilogram, nominal yang berada di bawah Harga Acuan Penjualan (HAP) senilai Rp30.000 per kilogram.

Kecenderungan penyusutan harga ini pun selaras dengan melorotnya Indeks Perkembangan Harga (IPH) di 63,33% area Indonesia. 

Sejalan dengan itu, jumlah kabupaten/kota yang mendata lonjakan harga telur kian menyusut, mulai dari 53 wilayah pada pekan kedua Juni, menyusut ke 49 wilayah pada pekan ketiga, menjadi 45 wilayah pada pekan keempat, hingga tersisa 24 kabupaten/kota pada pekan pertama Juli 2026.

Apabila melihat data Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) Kementan, himpitan terhadap harga telur ayam ras masih berlangsung di sektor produsen. 

Pada pekan kelima Juni 2026, rata-rata nilai jual telur ayam ras di kawasan sentra produksi berada di angka Rp21.200 per kilogram, alias jeblok 5,36% dari pekan sebelumnya dan berselisih 20% di bawah HAP produsen yang sebesar Rp26.500 per kilogram.

Sementara pada sektor konsumen nasional, rata-rata harga telur ayam ras bertengger di angka Rp29.450 per kilogram, menyusut 1,67% dari minggu lalu atau 1,83% di bawah HAP konsumen yang senilai Rp30.000 per kilogram.

Demi mengendalikan stabilitas nilai jual, pemerintah merancang deretan aksi lanjutan. Untuk periode pendek, Kementan bakal menggaransi ketersediaan pakan dan day old chick final stock (DOC FS), mengintensifkan pendampingan teknis guna menekan egg production rate (EPR), memacu penyerapan telur oleh koperasi dan BUMN pangan ketika harga merosot, serta mempraktikkan sistem pooling telur dari kawasan sentra ke titik konsumsi, utamanya area urban.

Sedangkan untuk periode menengah dan panjang, Kementan bakal menata kelola manajemen flock berlapis umur supaya kapasitas produksi mingguan lebih konstan, menggulirkan program replacement pullet berpatokan pada proyeksi kebutuhan, mematangkan fungsi koperasi peternak sebagai agregator telur demi efisiensi jalur logistik, serta merakit sistem early warning harga dan persediaan telur lewat dashboard nasional.

Bukan cuma telur, Agung memaparkan bahwa harga daging ayam ras juga memperlihatkan kecenderungan melandai. 

Demi memulihkan harga agar kembali mendekati HAP, pemerintah bakal memetakan kawasan surplus serta defisit pasokan saban hari, mengaselerasi redistribusi livebird ataupun karkas, sekaligus memaksimalkan peran Rumah Potong Hewan Unggas (RPHU).

Agung mengimbuhkan bahwa pemerintah pun bakal mengeksekusi penyerapan sewaktu harga anjlok di bawah HAP, mengadakan operasi pasar di kawasan yang masih mendata harga tinggi, serta menguatkan sistem rantai dingin (cold chain) demi menyokong kelancaran arus logistik.

Dari data Ditjen PKH, rata-rata harga ayam ras pedaging hidup (livebird) di sektor produsen pada minggu kelima Juni 2026 menembus Rp16.250 per kilogram bobot hidup, terangkat 2,09% dari pekan sebelumnya. 

Walau demikian, nominal tersebut masih berada 35% di bawah HAP produsen yang senilai Rp25.000 per kilogram bobot hidup.

Pada sektor konsumen, rata-rata harga karkas daging ayam ras tercatat senilai Rp36.950 per kilogram, menyusut 0,54% dari pekan sebelumnya dan terpaut 7,63% di bawah HAP konsumen yang sebesar Rp40.000 per kilogram.

Sebagai strategi jangka pendek, Agung menerangkan Kementan bakal memacu relokasi livebird serta karkas dari area surplus ke area defisit, mengefektifkan fungsi RPHU, mengeksekusi penyerapan ayam hidup sewaktu harga terpuruk di bawah HAP, mengadakan operasi pasar di wilayah berharga tinggi, mengokohkan prasarana cold chain, sekaligus memperketat pengawasan jalur distribusi serta indikasi spekulasi harga.

“Mohon izin di saat harga saat ini ada beberapa wilayah yang HAP-nya turun, tentunya akan dilakukan penyerapan, operasi pasar untuk wilayah yang tinggi, dan tentunya untuk logistik, cold chain-nya menjadi perhatian untuk kami semua,” paparnya.

Sementara itu, untuk program jangka menengah dan panjang, pemerintah memformulasikan sistem kontrak produksi serta penyerapan yang mengikat peternak, perusahaan integrator, dan BUMN pangan berpatokan pada HAP. 

Di samping itu, Kementan pun bakal menaikkan kapasitas rantai dingin lewat pendirian RPHU, Air Blast Freezer (ABF), serta cold storage regional, menyusun buffer stock karkas beku demi cadangan protein hewani, sekaligus memacu digitalisasi pelaporan produksi harian untuk mengupgrade akurasi monitoring pasokan dan harga.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index