PMI Anjlok ke 46,9, Apindo Desak Stabilisasi Rupiah

PMI Anjlok ke 46,9, Apindo Desak Stabilisasi Rupiah
Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo). (Foto: NET)

JAKARTA – Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) berpendapat bahwa merosotnya Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Indonesia ke angka 46,9 pada Juni 2026 memaparkan indikasi bahwa tekanan pada sektor industri kian nyata. 

Dunia usaha mengharapkan pemerintah tidak sekadar memangkas harga gas industri, melainkan juga menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan memperkokoh permintaan dalam negeri.

Wakil Ketua Bidang Kebijakan Publik Apindo, Chandra Wahjudi memaparkan, penyusutan PMI memperlihatkan bahwa beban ongkos produksi dan melemahnya pasar telah masuk dalam tahapan yang mesti diwaspadai secara lebih mendalam.

"Kontraksi ini merupakan indikasi bahwa daya beli domestik belum pulih, sementara biaya energi, bahan baku, dan depresiasi rupiah terus menekan margin industri. Sektor manufaktur membutuhkan intervensi kebijakan yang lebih terarah agar tidak masuk ke zona penurunan yang berkepanjangan," kata Chandra, Rabu (1/7/2026).

Chandra menerangkan, efek dari penurunan tersebut kini telah dirasakan di sektor riil. Pesanan baru mulai sepi, utilisasi operasional pabrik merosot akibat korporasi menunda belanja bahan baku, serta volume produksi konsisten turun selama empat bulan belakangan. 

Ditambah lagi, beberapa subsektor industri mulai melakukan pengurangan karyawan demi mempertahankan efisiensi usaha.

"Kondisi ini menunjukkan bahwa kontraksi PMI bukan hanya fenomena statistik, tetapi sudah tercermin dalam aktivitas operasional industri," ujarnya.

Kendati demikian, Apindo mengapresiasi kebijakan pemerintah yang menurunkan tarif gas hasil regasifikasi liquefied natural gas (LNG) untuk sektor industri menjadi US$ 13 per MMBTU. 

Langkah itu dipandang mampu meringankan beban ongkos operasional. Akan tetapi, Chandra menganggap kebijakan tersebut masih belum optimal untuk memulihkan kinerja manufaktur ke posisi ekspansif.

"Pemerintah juga perlu memastikan stabilisasi nilai tukar rupiah. Selain itu, diperlukan langkah untuk menguatkan permintaan domestik melalui stimulus konsumsi, insentif pembelian produk lokal, maupun dukungan pembukaan pasar ekspor baru," ucapnya.

Sebelumnya, S&P Global mengumumkan PMI manufaktur Indonesia melorot menjadi 46,9 pada Juni 2026 dari angka 50,0 pada Mei 2026. Angka indeks di bawah ambang batas 50 mengindikasikan sektor manufaktur kembali masuk ke zona kontraksi, sekaligus mencatatkan kemunduran operasional terdalam selama kurun waktu setahun terakhir.

S&P Global mengungkapkan bahwa penurunan ini dipicu oleh sepinya permintaan atas produk manufaktur lokal. Pesanan baru mengalami penciutan pertama kali dalam tiga bulan terakhir dengan tempo paling cepat dalam setahun, beriringan dengan melemahnya daya beli pasar. 

Permintaan dari pasar internasional pun turut merosot. Penyusutan pesanan dari luar negeri ini menjadi yang terburuk sejak Agustus 2021 karena lonjakan harga menghambat daya saing produk lokal di kancah global.

Kurangnya pesanan memicu korporasi memangkas output operasional selama empat bulan berturut-turut. Pada Juni, penurunan hasil produksi menjadi yang paling drastis sejak April 2025. Situasi ini pun memberi dampak negatif pada sektor ketenagakerjaan. 

Industri manufaktur kembali mengurangi pegawai dengan tempo tercepat sejak September 2021. Di saat bersamaan, penyerapan bahan baku terus melempem dalam empat bulan berturut-turut dan menjadi yang terendah sejak Agustus 2021.

Tekanan pada ongkos produksi juga kian memberatkan. Inflasi harga input pada bulan Juni menempati urutan tertinggi kedua semenjak survei PMI digulirkan pada April 2011. Lonjakan biaya ini diakibatkan oleh tingginya harga bahan mentah serta depresiasi mata uang rupiah.

Ekonom S&P Global Market Intelligence, Usamah Bhatti, menuturkan bahwa sektor manufaktur Indonesia menutup paruh pertama tahun 2026 dengan situasi yang kian kelam.

"Kesehatan sektor manufaktur Indonesia menurun dua kali dalam tiga bulan terakhir. Pesanan baru yang masuk kembali menurun sehingga menyebabkan penurunan volume output terbesar sejak April 2025," kata Usamah dalam rilis S&P Global.

Meski begitu, S&P Global merangkum adanya pertumbuhan optimisme dari para pelaku industri mengenai prospek bisnis dalam 12 bulan mendatang, yang merangkak naik ke level tertinggi dalam tiga bulan terakhir. 

Para pengusaha menaruh harapan agar tekanan harga dapat melandai sehingga mampu menggenjot angka penjualan dan pertumbuhan output di masa depan.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index