Sektor Saham Potensial Cuan Semester II/2026 yang Dijagokan Analis

Sektor Saham Potensial Cuan Semester II/2026 yang Dijagokan Analis
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). (Foto: NET)

JAKARTA – Penurunan kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) selama paruh pertama tahun 2026 tecermin dari merosotnya seluruh sektor di pasar modal Indonesia. Bahkan, beberapa sektor tercatat mengalami koreksi yang cukup dalam hingga menyentuh angka 40% selama enam bulan pertama di tahun 2026.

Berdasarkan data dari Bursa Efek Indonesia per tanggal 30 Juni 2026, sektor energi menjadi lini yang mengalami penurunan paling tajam, yakni mencapai 42,17% year-to-date (YtD). Menyusul di belakangnya, sektor properti dan real estat yang ikut melemah sebesar 40,15% pada jangka waktu yang sama. Penurunan ini juga melanda sektor infrastruktur yang merosot hingga 37%, sektor teknologi menyusut 34,39%, sektor industrial turun 34,10%, sektor basic materials melemah 32,24%, sektor kesehatan terpangkas 32,08%, serta sektor konsumer siklikal yang tergerus hingga 31,50% sepanjang periode Januari hingga Juni 2026.

Di sisi lain, performa yang relatif lebih baik ditunjukkan oleh sektor finansial yang hanya terkoreksi sebesar 17,53%, diikuti oleh sektor transportasi dan logistik yang turun 18,69%, serta sektor konsumer non-siklikal yang melemah sebesar 19,48% sepanjang tahun berjalan ini.

Keterpurukan yang dialami oleh seluruh sektor saham di Indonesia ini sejalan dengan pergerakan IHSG yang pada periode serupa sudah terkoreksi sebesar 34,74% year-to-date (YtD) ke posisi 5.643,2 pada penutupan perdagangan kemarin. Selain itu, aliran modal asing senilai Rp72,56 triliun dilaporkan telah keluar dari pasar saham dalam negeri sepanjang tahun ini. Tekanan hebat pada pasar modal RI dipicu oleh beragam sentimen negatif, mulai dari melemahnya nilai tukar mata uang rupiah, konflik geopolitik yang terjadi antara Iran dan AS, hingga evaluasi dari penyedia indeks global MSCI Inc. mengenai aksesibilitas pasar modal domestik.

Walaupun demikian, Head of Research RHB Sekuritas Indonesia Andrey Wijaya berpendapat bahwa kans bagi IHSG untuk bangkit pada paruh kedua tahun ini masih ada, meskipun situasi pasar diperkirakan tetap akan diwarnai volatilitas yang tinggi. Ia menjelaskan bahwa koreksi yang terjadi pada semester pertama justru membuat valuasi saham menjadi jauh lebih atraktif saat ini, sekalipun pasar masih menantikan adanya dorongan stimulus yang lebih kuat demi mengerek performa.

”Sejalan dengan meningkatnya ketidakpastian global dan domestik, kami juga berencana merevisi target IHSG akhir 2026 dengan menggunakan asumsi market risk premium yang lebih tinggi,” katanya kepada Bisnis, Rabu (1/7/2026).

Andrey memaparkan bahwa pihaknya tetap mengambil posisi overweight untuk sektor perbankan karena ditopang oleh fundamental yang kokoh, pertumbuhan penyaluran kredit yang kuat, kualitas aset yang tetap aman, hingga valuasi yang menjadi semakin memikat setelah terjadinya koreksi pasar. Di samping itu, RHB juga memberikan perhatian pada sektor konsumer staples, telekomunikasi, serta kesehatan karena sifatnya yang defensif dan prospek perolehan laba yang tergolong stabil.

Sementara itu, Managing Director Research & Digital Production Samuel Sekuritas Indonesia Harry Su memproksikan bahwa sektor yang berpeluang besar menjadi roda penggerak utama bagi IHSG pada paruh kedua tahun 2026 ialah sektor komoditas.

”Sektor yang berpotensi menjadi motor penguatan adalah selektif komoditas yang mendapat dukungan dari perbaikan kebijakan serta potensi peningkatan RKAB,” katanya.

Dari sudut pandang lain, Head of Research/Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Arya Wisnubroto melihat ada beberapa sektor tertentu yang dinilai bakal cenderung tangguh pada paruh kedua tahun 2026, seperti sektor poultry (perunggasan) dan komoditas emas. Sektor poultry diperkirakan bisa memanfaatkan sentimen positif dari program Makan Bergizi Gratis yang menjadi ambisi pemerintah. Di sisi lain, sektor komoditas secara fundamental dinilai memiliki masa depan yang cerah berkat aktivitas ekspor yang dilakukan.

”Dan khususnya emas. Gold menurut kami juga masih solid. Kalau prospek jangka panjang ini demand gold masih besar. Bank sentral kemungkinan di seluruh dunia juga, dengan kondisi geopolitik masih sulit untuk diprediksi, mungkin ke depan mereka lebih bisa lihat gold,” katanya.

Kinerja Sektor Saham Sepanjang 2026

Index                           Akhir Juni       YTD
------------------------------------------------------
Energy                           2,575.241     -42.17%
Basic Materials                  1,394.510     -32.24%
Industrials                      1,420.145     -34.10%
Consumer Non-Cyclicals             644.020     -19.48%
Consumer Cyclicals                 840.079     -31.50%
Healthcare                       1,402.061     -32.08%
Financials                       1,278.306     -17.53%
Properties & Real Estate           702.010     -40.15%
Technology                       6,251.476     -34.39%
Infrastructures                  1,682.835     -37.00%
Transportation & Logistic        1,598.533     -18.69%

 

Halaman

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index