Kubis Dairi Siap Ekspor 200 Ton per Bulan, Petani Bisa Kantongi Untung 3 Kali Lipat

Minggu, 20 September 2026 | 14:37:00 WIB
Kubis Dairi Siap Ekspor 200 Ton per Bulan, Petani Bisa Kantongi Untung 3 Kali Lipat

GLOBALINVESTOR.ID — Pemerintah Kabupaten Dairi bersama Direktorat Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian menyiapkan pasokan kubis untuk pasar ekspor 100 hingga 200 ton per bulan pada tahap awal pengembangan. Proyeksi keuntungan bersih petani dari jalur ekspor mencapai Rp 3.500 hingga Rp 5.000 per kilogram, sekitar dua hingga tiga kali lipat dibanding penjualan domestik yang hanya Rp 1.000 hingga Rp 1.500 per kilogram.

Program Horticulture Development in Dryland Areas Project (HDDAP) menjadi kendaraan utama pengembangan komoditas ini. Fokusnya memperkuat budidaya berstandar ekspor, kualitas pascapanen, dan rantai pasok berkelanjutan.

Kabupaten Dairi di Sumatera Utara dinilai punya modal kuat sebagai sentra hortikultura nasional. Tanah vulkaniknya subur, dengan ketinggian wilayah 700 hingga 1.450 meter di atas permukaan laut.

Produksi Domestik Baru 6.000 Ton per Tahun

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Dairi tahun 2025 mencatat luas panen kubis lebih dari 549 hektare. Produktivitas lahan berkisar 6 hingga 7,3 ton per hektare.

Dengan angka itu, produksi kubis Dairi diperkirakan mencapai 5.000 hingga 6.000 ton per tahun. Seluruhnya masih terserap pasar domestik.

Pemerintah daerah memproyeksikan alokasi untuk ekspor sebesar 100 hingga 200 ton per bulan pada tahap awal. Penerapan standar mutu, penguatan kelembagaan petani, dan peningkatan kapasitas pascapanen menjadi prasyaratnya.

Selisih Harga Ekspor vs Domestik

Di pasar domestik, harga kubis berada di kisaran Rp 2.500 hingga Rp 4.000 per kilogram. Keuntungan bersih petani sekitar Rp 1.000 hingga Rp 1.500 per kilogram.

Untuk pasar ekspor, harga diproyeksikan mencapai Rp 7.000 hingga Rp 10.000 per kilogram. Setelah dikurangi biaya penyortiran dan pengemasan Rp 2.500 hingga Rp 3.000 per kilogram, keuntungan bersih petani berada di kisaran Rp 3.500 hingga Rp 5.000 per kilogram.

Besaran keuntungan itu tetap bergantung pada harga aktual, biaya produksi, standar mutu, dan efisiensi rantai pasok.

Malaysia, Singapura, dan Taiwan Jadi Target

Pengembangan ekspor kubis Dairi diarahkan menyasar Asia Tenggara dan Asia Timur. Malaysia dan Singapura menjadi target potensial dengan kebutuhan pasokan rutin.

Taiwan juga masuk bidikan karena persyaratan mutu dan kesegaran produknya ketat. Petani didorong menerapkan Good Agricultural Practices (GAP), termasuk pengelolaan budidaya, penggunaan pestisida tepat dosis, dan pengendalian residu sesuai ketentuan negara tujuan.

Sorting and grading menjadi bagian penting menjaga konsistensi mutu. Kubis untuk pasar ekspor ditargetkan berbobot 1,5 hingga 2,5 kilogram per knop, sesuai spesifikasi calon pembeli.

Varietas Green Nova F1 menjadi salah satu yang dikembangkan petani. Karakteristiknya dinilai cocok untuk pasar dataran tinggi: bobot ideal, knop padat, dan daya simpan yang mendukung distribusi.

Peran Koperasi dan Kelompok Tani

Pemerintah daerah memperkuat peran kelompok tani dan koperasi. Tujuannya mendukung konsolidasi produksi, kontinuitas pasokan, dan meningkatkan posisi tawar petani dalam rantai pemasaran.

Direktur Hilirisasi Hasil Hortikultura Kementerian Pertanian sekaligus Project Director HDDAP, Freddy Lumban Gaol, menegaskan pengembangan kubis Dairi bagian dari upaya memperkuat hilirisasi hortikultura berbasis kawasan.

"Program HDDAP tidak hanya berfokus pada peningkatan produksi, tetapi juga mendorong penguatan rantai nilai hortikultura dari hulu hingga hilir. Kabupaten Dairi memiliki potensi pengembangan kubis yang perlu dioptimalkan melalui penerapan praktik budidaya yang baik, peningkatan kualitas pascapanen, dan penguatan akses pasar. Kami ingin memastikan bahwa produk yang dihasilkan petani mampu memenuhi persyaratan mutu dan memiliki daya saing di pasar domestik maupun internasional," ujar Freddy dalam keterangan tertulis, Minggu (20/9/2026).

Freddy menambahkan, akses pasar ekspor harus dibangun lewat kesiapan produksi, konsistensi mutu, dan kepastian pasokan. Pendampingan HDDAP diarahkan untuk memenuhi tiga syarat itu.

Terkini