Lahan Pesisir Batang Nganggur 6 Tahun Kini Panen 166,5 Ton Padi Biosalin Senilai Rp 1,3 Miliar

Minggu, 20 September 2026 | 11:42:00 WIB
Lahan Pesisir Batang Nganggur 6 Tahun Kini Panen 166,5 Ton Padi Biosalin Senilai Rp 1,3 Miliar

GLOBALINVESTOR.ID — Kolaborasi PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk. (PGN), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dan Pemerintah Kabupaten Batang menghasilkan 166,5 ton gabah kering panen (GKP) dari budidaya Padi Biosalin di kawasan pesisir salin. Nilai ekonomi panen tersebut mencapai Rp 1,3 miliar, membuktikan lahan yang sempat tidak produktif selama 6 tahun bisa kembali berproduksi di tengah tekanan El Nino.

Panen raya berlangsung di Kabupaten Batang, Jawa Tengah, Jumat (18/9/2026), melalui program CSR Pengembangan dan Budidaya Varietas Padi Biosalin dan Minapadi Salin pada Kawasan Salinitas Tinggi. Program ini menyasar lahan pesisir yang selama ini terkendala salinitas dan keterbatasan air.

Sebelum program berjalan, sebagian lahan pesisir Batang tidak digarap selama 6 tahun. Tekanan iklim memperparah kondisi itu: Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat indeks ENSO rata-rata tiga bulanan periode Juli—September 2026 sebesar 2,6, masuk kategori El Nino sangat kuat.

Hingga Dasarian I September, sekitar 80,7% Zona Musim di Indonesia sudah memasuki musim kemarau. Kawasan pesisir yang berhadapan dengan salinitas akibat air laut dan rob jadi kelompok paling rentan.

Dorongan dari Pemerintah Pusat

Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan RI, Hanif Faisol Nurofiq, menilai abrasi dan rob menjadi ancaman nyata bagi keberlanjutan lahan pertanian pesisir. Menurut dia, dibutuhkan langkah adaptasi dan mitigasi terintegrasi, termasuk inovasi pertanian yang mampu bertahan di lahan salin.

"Integrasi padi dan ikan juga rumput laut juga berpotensi menjadi model yang dapat dikembangkan sesuai karakteristik wilayah," ujar Hanif dalam keterangannya, dikutip Minggu (20/9/2026).

Bupati Batang M. Faiz Kurniawan menyebut tantangan perubahan iklim dan kondisi lingkungan pesisir tidak bisa diselesaikan satu pihak. "Kerja sama pemerintah, dunia usaha, lembaga riset, dan masyarakat dapat menghadirkan solusi yang sesuai dengan kebutuhan wilayah sekaligus memberikan manfaat ekonomi, lingkungan dan masyarakat khususnya petani," kata Faiz.

Klaim PGN soal Replikasi ke Wilayah Lain

Anggota Dewan Pengarah BRIN Tri Mumpuni menyatakan keberhasilan panen ini buah gotong royong pemerintah, akademisi, badan usaha, dan masyarakat. Corporate Secretary PGN Fajriyah Usman menambahkan, pengembangan Padi Biosalin merupakan bagian dari komitmen perseroan menjalankan tanggung jawab sosial dan lingkungan.

Fajriyah menegaskan panen di Batang menunjukkan lahan yang sebelumnya tidak produktif dapat dimanfaatkan kembali, sekaligus membuka lapangan kerja lewat inovasi dan kolaborasi. Namun ia mengingatkan pengalaman dari berbagai wilayah memperlihatkan pentingnya menyesuaikan model budidaya dengan karakteristik lahan dan kebutuhan masyarakat setempat.

"Dari lahan yang menghadapi keterbatasan, kita tumbuhkan produktivitas. Dari inovasi, kita hadirkan solusi. Dan melalui kolaborasi, kita ciptakan keberlanjutan yang manfaatnya dapat dirasakan masyarakat," kata Fajriyah.

PGN bersama BRIN kini mendorong replikasi model ini ke wilayah pesisir lain. Bagi pelaku usaha dan investor, keberhasilan Batang menjadi sinyal bahwa lahan salin yang selama ini dianggap tidak ekonomis bisa masuk hitungan sebagai aset produktif, asalkan model budidaya disesuaikan dengan karakter wilayah.

Terkini