GLOBALINVESTOR.ID — Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan kritik tajam kepada Federal Reserve (The Fed) setelah bank sentral itu memutuskan menaikkan suku bunga acuannya, Kamis (17/9/2026). Kemarahan Trump disampaikan lewat Truth Social, platform media sosial miliknya. Ia menilai kebijakan itu salah arah dan meminta suku bunga AS segera diturunkan.
Trump menilai suku bunga AS seharusnya berada di level yang jauh lebih rendah. Menurutnya, posisi Amerika Serikat sebagai negara dengan peringkat kredit terbaik di dunia menjadi dasar permintaan itu.
Seruan Trump ke The Fed
"Suku bunga di AS seharusnya 1,0 persen, atau kurang, karena kita adalah negara dengan peringkat kredit terbaik di dunia," kata Trump di Truth Social.
Ia tidak berhenti di situ. Trump mendesak The Fed untuk segera menurunkan suku bunga acuannya. "Turunkan suku bunga AS secepatnya," ujarnya.
Permintaan itu menegaskan sikap Trump yang sejak lama menginginkan kebijakan moneter lebih longgar. Kenaikan suku bunga dinilainya menghambat pertumbuhan ekonomi.
Sasaran Kritik: Dewan Gubernur, Bukan Kevin Warsh
Menariknya, kemarahan Trump tidak diarahkan kepada Ketua The Fed Kevin Warsh. Ia justru menyalahkan Dewan Gubernur The Fed sebagai pihak yang paling bertanggung jawab atas keputusan tersebut.
"Dewan bersikap sangat bermusuhan. Mereka sangat politis. Mereka melakukan hal yang salah," kata Trump.
Pernyataan itu menunjukkan Trump masih membedakan posisi Warsh dari jajaran gubernur lain di bank sentral AS. Sejauh ini belum ada tanggapan resmi dari The Fed atas kritik tersebut.
Dampak ke Pasar dan Ekonomi Global
Kenaikan suku bunga The Fed berdampak luas, tidak hanya bagi perekonomian AS. Bagi pasar keuangan global, termasuk Indonesia, kebijakan ini memengaruhi arah aliran modal asing dan nilai tukar.
Suku bunga AS yang lebih tinggi biasanya membuat imbal hasil obligasi pemerintah AS naik. Kondisi itu bisa menarik dana investor keluar dari negara berkembang menuju aset dolar AS.
Bagi pelaku pasar Indonesia, pergerakan ini menjadi salah satu faktor yang dipantau ketat. Tekanan terhadap rupiah dan pasar obligasi sering muncul ketika The Fed menempuh kebijakan moneter ketat.
Namun, keputusan The Fed kali ini juga menjadi sorotan karena terjadi di tengah tekanan politik dari Gedung Putih. Kritik terbuka Trump menambah ketegangan antara eksekutif dan bank sentral yang seharusnya independen.
Bagi investor maupun pelaku usaha, perdebatan antara Trump dan The Fed ini menjadi sinyal penting. Arah suku bunga AS ke depan akan sangat dipengaruhi seberapa kuat tekanan politik yang muncul.