The Fed Naikkan Bunga ke 4%, Rupiah Dibuka Melemah ke Rp17.705

Kamis, 17 September 2026 | 09:07:00 WIB

GLOBALINVESTOR.ID — Nilai tukar rupiah dibuka melemah 0,17% ke Rp17.705 per dolar AS pada perdagangan Kamis (17/9/2026), membalikkan penguatan tipis sehari sebelumnya. Tekanan datang setelah The Federal Reserve menaikkan suku bunga acuan 25 basis poin menjadi 3,75%-4,00%, kenaikan pertama dalam lebih dari tiga tahun.

Berdasarkan data Refinitiv, posisi pembukaan rupiah hari ini membalikkan penguatan 0,03% pada Rabu (16/9/2026) yang mengakhiri perdagangan di level Rp17.675 per dolar AS.

Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia terpantau menguat 0,05% ke posisi 100,315 pada pukul 09.00 WIB. Penguatan itu melanjutkan kenaikan DXY sebesar 0,64% pada perdagangan sebelumnya.

The Fed Kerek Bunga 25 Basis Poin, Sinyal Pengetatan Lanjutan

The Fed menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 3,75%-4,00% setelah rapat dua hari Federal Open Market Committee (FOMC). Keputusan diumumkan Rabu waktu AS atau Kamis dini hari waktu Indonesia.

Kenaikan ini menjadi yang pertama sejak Juli 2023. Anggota FOMC menyetujuinya secara bulat dengan perolehan suara 12-0.

Bank sentral AS juga mengisyaratkan masih terbuka peluang satu kali kenaikan bunga lagi hingga akhir tahun. Sepanjang Januari hingga Juli 2026, The Fed menahan suku bunga sebelum akhirnya menaikkannya pada pertemuan September.

Inflasi AS Masih 3,4%, Jauh di Atas Target 2%

Inflasi AS tercatat 3,4% secara tahunan (year-on-year/yoy) pada Agustus 2026. Angka itu masih berada di atas target inflasi The Fed sebesar 2%.

"Inflasi masih berada di level tinggi. Kebijakan yang diambil hari ini diharapkan dapat mendukung kembalinya inflasi ke target The Fed sebesar 2% secara lebih cepat," tulis The Fed dalam keterangan resminya.

Ketua The Fed Kevin Warsh menegaskan stabilitas harga tetap menjadi fokus utama bank sentral. Menurutnya, inflasi masih terlalu tinggi dan bertahan pada level tersebut dalam waktu yang terlalu lama.

"Kami harus yakin bahwa inflasi yang mendasari bergerak menuju target kami secara jelas dan dengan kecepatan yang memadai. Hari ini, FOMC memutuskan bahwa standar tersebut belum terpenuhi," ujar Warsh, dikutip dari CNBC International.

Ruang Penguatan Rupiah Makin Sempit

Kenaikan suku bunga dan terbukanya peluang pengetatan lanjutan meningkatkan daya tarik aset berdenominasi dolar AS. Kondisi tersebut mendorong penguatan greenback sekaligus mempersempit ruang penguatan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Pergerakan rupiah hari ini diperkirakan sangat dipengaruhi sentimen eksternal, terutama penguatan dolar AS di pasar global pasca-keputusan The Fed. Sebelumnya, The Fed mempertahankan suku bunga di level 4,25%-4,50% hingga Agustus 2025, lalu memangkasnya pada September, Oktober, dan Desember 2025 hingga berada di kisaran 3,50%-3,75%.

Bagi pelaku pasar domestik, level Rp17.705 menjadi acuan awal sesi. Investor obligasi dan saham berdenominasi rupiah perlu mencermati apakah DXY melanjutkan kenaikan atau berbalik arah menjelang rilis data ekonomi AS berikutnya.

Terkini