GLOBALINVESTOR.ID — Bank Mandiri membukukan laba bersih Rp 37,49 triliun secara bank only hingga Agustus 2026, tumbuh 22,3% dibanding periode sama tahun lalu. Pertumbuhan ini ditopang kenaikan kredit dan pendapatan berbasis komisi, meski biaya dana dan likuiditas masih jadi tantangan. BCA dan BNI juga mencatat kenaikan laba, walau dengan laju yang lebih tipis.
Laba bersih Bank Mandiri (BMRI) mencapai Rp 37,49 triliun sepanjang Januari-Agustus 2026, naik dari Rp 30,65 triliun pada periode yang sama 2025. Pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) perseroan ikut naik 7,15% yoy menjadi Rp 54,84 triliun.
Pendapatan dari komisi, provisi, fee, dan administrasi tumbuh lebih kencang, yakni 21,95% yoy menjadi Rp 15,53 triliun. Secara keseluruhan, fee-based income (FBI) Mandiri naik 12,9% yoy, ditopang recurring fee dari aplikasi Livin' dan platform Kopra.
Kredit dan DPK Mandiri Tumbuh Kompak
Dari sisi intermediasi, kredit bank only Mandiri mencapai Rp 1.592,2 triliun hingga Agustus 2026, tumbuh 17,64% yoy. Dana pihak ketiga (DPK) juga naik 17,56% yoy menjadi Rp 1.687,22 triliun.
Kenaikan DPK ditopang lonjakan deposito sebesar 47,77% yoy menjadi Rp 501,44 triliun. Giro tumbuh 5,51% yoy menjadi Rp 623,09 triliun, sementara tabungan naik 11,36% yoy menjadi Rp 562,69 triliun.
Direktur Finance & Strategy Bank Mandiri Novita Widya Anggraini menyebut pencapaian ini jadi landasan untuk menjaga pertumbuhan yang sehat dan berkelanjutan.
"Ke depan, kami akan menjaga kualitas intermediasi sekaligus memperkuat kapabilitas digital Bank Mandiri. Langkah ini kami jalankan agar dapat terus memberikan kontribusi bagi perekonomian nasional dan menghadirkan layanan perbankan yang nyaman bagi nasabah," ujar Novita dalam keterangan resminya, dikutip Rabu (16/9/2026).
Meski begitu, beban impairment Mandiri naik 23,57% yoy menjadi Rp 5,55 triliun. Laba operasional perseroan tetap tumbuh 22,74% yoy menjadi Rp 46,06 triliun.
BNI dan BCA Ikut Naik, tapi Lebih Tipis
Bank Negara Indonesia (BBNI) mencatat laba bersih Rp 14,32 triliun secara bank only hingga Agustus 2026, tumbuh 6,89% yoy. NII BNI masih tumbuh dua digit, 14,33% yoy menjadi Rp 28,87 triliun, diikuti pendapatan komisi dan provisi yang naik 11,62% yoy menjadi Rp 7,46 triliun.
Beban impairment BNI naik 26,9% yoy menjadi Rp 5,92 triliun, dengan laba operasional tumbuh 9,56% yoy menjadi Rp 17,72 triliun. Kredit BNI melesat 27,14% yoy menjadi Rp 977,17 triliun, sementara DPK naik 29,4% yoy menjadi Rp 1.124,71 triliun.
Kenaikan DPK BNI terutama berasal dari deposito yang melonjak 63,75% menjadi Rp 389,94 triliun. Giro tumbuh 20,76% yoy menjadi Rp 442,62 triliun dan tabungan naik 10,46% yoy menjadi Rp 292,13 triliun.
Bank Central Asia (BCA) membukukan laba bersih Rp 40,17 triliun hingga Agustus 2026, tumbuh 2,85% yoy. NII BCA hanya naik 1,33% yoy menjadi Rp 53,82 triliun, meski pendapatan komisi dan provisi masih tumbuh 7,74% yoy menjadi Rp 13,59 triliun.
Beban impairment BCA justru turun 18,55% yoy menjadi Rp 2,16 triliun. Laba operasional perseroan tumbuh 2,72% yoy menjadi Rp 49,36 triliun, dengan kredit bank only mencapai Rp 1.017,7 triliun atau naik 10,52% yoy.
DPK BCA naik 8,33% yoy menjadi Rp 1.256,83 triliun, ditopang dana murah. Giro meningkat 14,73% menjadi Rp 447,51 triliun dan tabungan tumbuh 8,2% menjadi Rp 626,70 triliun, sementara deposito turun 4,3% menjadi Rp 182,63 triliun.
Tekanan Biaya Dana Bayangi Laba ke Depan
Direktur BCA Vera Eve Lim menargetkan kredit tumbuh mendekati 10% hingga akhir 2026. Segmen korporasi, komersial, dan UKM diperkirakan masih jadi penopang utama.
Namun, margin bunga bersih (net interest margin/NIM) diproyeksikan menurun seiring persaingan perbankan yang makin ketat.
"Kami prediksikan NIM mungkin akan terus menurun. Tapi volume terus meningkat. Jadi laba buat perbankan akan terjaga baik," ujar Vera dalam Public Expose Live 2026, dikutip Rabu (16/9/2026).
Bagi investor, tiga bank besar ini menunjukkan pola berbeda: Mandiri dan BNI agresif mendorong kredit dengan konsekuensi beban pencadangan naik, sementara BCA lebih konservatif namun efisien dalam pencadangan. Pertumbuhan laba ke depan akan sangat bergantung pada kemampuan bank menekan biaya dana di tengah likuiditas yang masih ketat.