Gunakan Lisensi CATL, Ford Resmi Produksi Baterai EV di Michigan

Gunakan Lisensi CATL, Ford Resmi Produksi Baterai EV di Michigan
Ford Motor Company. (Foto: NET)

JAKARTA — Perusahaan otomotif asal Amerika Serikat, Ford Motor Company, resmi memulai kegiatan produksi di fasilitas pembuatan baterai mereka yang sempat memicu kontroversi di Michigan. 

Langkah komersial tersebut menandai awal penggunaan teknologi litium-besi fosfat (LFP) melalui lisensi resmi dari produsen baterai raksasa asal China, Contemporary Amperex Technology Co. Limited (CATL), setelah sebelumnya sempat melewati perdebatan politik yang sengit di tingkat Kongres. 

Aktivitas perakitan di pabrik tersebut berhasil berjalan sesuai jadwal seiring dengan rampungnya seluruh proses konstruksi fisik. Wakil Presiden CATL Meng Xiangfeng mengonfirmasi pengerjaan fisik di lokasi proyek telah selesai dan proses produksi sel baterai perdana sudah berjalan sejak Juni 2026. 

Melalui kerja sama bisnis ini, CATL tidak sekadar membagikan hak lisensi teknologi baterai LFP kepada Ford, melainkan juga ikut terlibat langsung dalam pembangunan pabrik serta mengawal operasional harian fasilitas tersebut. 

Pemilihan teknologi LFP dinilai sangat krusial bagi strategi elektrifikasi Ford untuk memangkas biaya produksi komponen sel agar jauh lebih efisien.

Perjalanan Ford dan CATL dalam mencapai tahap produksi massal ini harus menghadapi tantangan regulasi yang sangat berat. Rencana pembangunan pabrik patungan serta kesepakatan lisensi teknologi tersebut pertama kali dipublikasikan pada Februari 2023, ketika Joe Biden masih menjabat sebagai Presiden Amerika Serikat. 

Namun, arah kebijakan berubah secara drastis setelah Presiden Donald Trump memangkas ketentuan dalam Inflation Reduction Act (IRA) melalui pengesahan undang-undang One Big Beautiful Bill Act pada tahun lalu. 

Sejak awal, jalinan kemitraan ini terus mendapat pengawasan ketat dan penolakan dari perwakilan Partai Republik di parlemen. Jajaran politisi sempat berupaya memblokir seluruh produk baterai yang terikat dengan perusahaan China agar tidak mendapatkan fasilitas kredit pajak federal menurut laporan Corcoops. 

Walaupun klausul kredit produksi sempat dihilangkan pada rancangan awal, versi final undang-undang tersebut tetap mempertahankan insentif untuk komponen baterai dan memasukkan kesepakatan Ford-CATL yang sudah berjalan ke dalam aturan pengecualian khusus (grandfathered).

Dampak dari tekanan eksternal serta dinamika pasar yang terjadi memaksa Ford untuk memotong target awal proyek tersebut. 

Pihak manajemen akhirnya memangkas nilai investasi pabrik menjadi US$2 miliar dan menurunkan target kapasitas produksi tahunan menjadi 20 gigawatt-jam (GWh), dari rencana awal yang ditargetkan mencapai 35 GWh guna menyuplai hingga 400.000 unit kendaraan listrik. 

Berdasarkan ketentuan kontrak asli, operasional pabrik ini semula membuat Ford berhak mendapatkan subsidi pemerintah sebesar US$45 per kilowatt-jam (kWh) untuk setiap baterai yang diproduksi secara lokal.

Untuk memaksimalkan nilai ekonomis dari fasilitas tersebut di tengah adanya pembatasan kuota baru, Ford mengambil langkah taktis dengan mengubah arah pemanfaatan komponen yang diproduksi. 

Perusahaan otomotif tersebut kini mulai beralih dari rencana awal yang hanya menggunakan baterai LFP lisensi CATL untuk armada kendaraan listrik (EV). Ford saat ini berniat untuk memasok sel baterai tersebut ke dalam ekosistem sistem penyimpanan energi (battery storage) makro. 

Strategi diversifikasi ini dilaporkan sudah mulai berjalan pada fasilitas pabrik bersama antara Ford dan CATL yang berlokasi di Kentucky. 

Lewat peta jalan bisnis yang baru, Ford menargetkan untuk menyalurkan sedikitnya 20 GWh pasokan baterai LFP ini setiap tahun guna memenuhi kebutuhan pasar sistem penyimpanan energi yang tengah berkembang pesat di sektor industri dan jaringan utilitas listrik domestik.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index