Laba Amartha Warbler Finance Melesat Jadi Rp127 Miliar usai Akuisisi

Laba Amartha Warbler Finance Melesat Jadi Rp127 Miliar usai Akuisisi
Perusahaan multifinance PT Amartha Warbler Finance. (Foto: NET)

JAKARTA — Perusahaan multifinance PT Amartha Warbler Finance mengumumkan lonjakan performa yang signifikan sepanjang tahun 2025. 

Peningkatan kinerja ini terjadi setelah proses akuisisi yang berujung pada pergantian nama serta pengendali perusahaan, dari yang sebelumnya bernama PT Bosowa Multi Finance menjadi Amartha Warbler. Melalui perubahan ini, keuntungan bersih perusahaan melesat hingga mencapai Rp127,04 miliar.

Merujuk pada laporan keuangan tahun buku 2025 yang dirilis pada Kamis (25/6/2026), total pendapatan yang dikumpulkan oleh perusahaan menyentuh angka Rp216,15 miliar. 

Jumlah ini memperlihatkan pertumbuhan sebesar 611,4 persen jika dikomparasikan dengan perolehan tahun 2024 yang bernilai Rp30,38 miliar. 

Faktor pendorong utama pertumbuhan ini berasal dari sektor pembiayaan konsumen yang menyumbang Rp209,54 miliar sekaligus memegang andil terbesar dalam struktur pendapatan perusahaan.

Melonjaknya pendapatan ini memberikan pengaruh positif secara langsung pada profitabilitas perusahaan. Keuntungan sebelum pajak tercatat berada di angka Rp163,02 miliar, atau meroket sebesar 829,4 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya sebesar Rp17,54 miliar. 

Di sisi lain, laba berjalan perusahaan mampu mencapai Rp127,04 miliar, yang berarti naik tajam sebesar 1.322,1 persen jika dibandingkan dengan hasil laba bersih tahun 2024 yang senilai Rp8,93 miliar.

Perkembangan bisnis ini juga dapat dilihat dari perluasan skala aset yang dimiliki oleh perusahaan. Hingga akhir tahun 2025, total aset PT Amartha Warbler Finance menyentuh Rp447,38 miliar, menunjukkan peningkatan sebesar 77,8 persen dari posisi akhir tahun 2024 sebesar Rp251,56 miliar. 

Bersamaan dengan itu, total ekuitas perusahaan turut merangkak naik 50,8 persen menjadi Rp377,05 miliar dari posisi Rp250,01 miliar pada tahun sebelumnya. Penguatan di sektor modal ini dipicu oleh pulihnya saldo laba yang sebelumnya defisit Rp4,20 miliar pada tahun 2024, berbalik menjadi positif sebesar Rp122,84 miliar pada tahun 2025.

Jika ditinjau dari aspek aset, piutang bersih untuk pembiayaan konsumen tercatat menyentuh Rp337,94 miliar pada penghujung tahun, menandakan strategi ekspansi penyaluran dana yang tergolong agresif. 

Sementara itu, dana kas yang tersimpan di bank berada di angka Rp65,65 miliar. Nilai liabilitas atau kewajiban perusahaan tercatat sebesar Rp70,33 miliar, angka yang terhitung jauh lebih kecil apabila disandingkan dengan total ekuitas yang bernilai Rp377,05;miliar. Di sisi lain, besaran modal saham tidak mengalami perubahan dan bertahan di angka Rp250 miliar.

Walaupun sukses menorehkan pertumbuhan laba yang amat besar, kondisi arus kas perusahaan masih memperlihatkan adanya tekanan keuangan. Arus kas yang bersumber dari kegiatan operasional tercatat minus Rp33,40 miliar, sedangkan arus kas dari sektor investasi juga minus Rp15,09 miliar. 

Dinamika tersebut memicu terjadinya penurunan kas bersih sebanyak Rp48,49 miliar sepanjang berjalannya tahun 2025. Walau demikian, saldo kas pada akhir tahun dipastikan tetap aman dan berada pada kisaran Rp65,65 miliar.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index