Transformasi Pendidikan Tinggi Wajib Ditopang Budaya Riset yang Kuat

Transformasi Pendidikan Tinggi Wajib Ditopang Budaya Riset yang Kuat
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto. (Foto: NET)

JAKARTA – Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto menekankan bahwa transformasi pendidikan tinggi mesti ditopang oleh penguatan kualitas, pemerataan kapasitas antarkampus, serta pembangunan budaya riset dan sains yang tangguh.

"Tujuan akhir dari penelitian adalah apa yang dapat kami sumbangkan kepada masyarakat. Karena pembangunan berkelanjutan bukan hanya tentang menyelesaikan penelitian dan menerbitkannya. Lebih dari itu, bagaimana kami dapat menghadirkan dampak dari pekerjaan, pengetahuan, dan penelitian kami bagi masyarakat," katanya dalam keterangan di Jakarta, Rabu (24/6/2026).

Menteri Brian menegaskan bahwa budaya riset dan sains merupakan fondasi utama dalam mewujudkan perguruan tinggi yang unggul dan berdaya saing global. 

Ia menilai bahwa pengalaman di berbagai perguruan tinggi bereputasi dunia menunjukkan bahwa laboratorium memegang peranan sentral dalam membangun budaya sains dan riset yang produktif. Hal tersebut turut didukung oleh dosen serta profesor yang menciptakan atmosfer akademik yang produktif.

Oleh karena itu, Mendiktisaintek mendorong terciptanya ekosistem jejaring perguruan tinggi yang saling mendukung melalui mekanisme pendampingan dan kolaborasi, sehingga peningkatan mutu pendidikan tinggi dapat berlangsung secara lebih inklusif dan berkelanjutan.

"Saat ini, kami mengembangkan sistem mentorship, dimana perguruan tinggi yang lebih maju menjadi mentor dan coach bagi perguruan tinggi lainnya. Kami juga membangun jejaring antarkampus, karena dengan jumlah perguruan tinggi yang sangat besar di Indonesia, kolaborasi dan kerja sama merupakan kunci untuk meningkatkan kualitas pendidikan tinggi secara bersama-sama," ujarnya.

Melalui visi “Diktisaintek Berdampak”, Kemdiktisaintek menempatkan pendidikan tinggi, sains, dan teknologi sebagai motor transformasi sosial serta ekonomi yang berfokus pada delapan sektor prioritas strategis, yakni ketahanan pangan, kesehatan, energi, maritim, pertahanan, digitalisasi dan kecerdasan artifisial, semikonduktor, manufaktur maju, serta hilirisasi dan industrialisasi.

Guna mewujudkan hal tersebut, Menteri Brian mengajak seluruh mitra global untuk membangun kolaborasi yang lebih kuat dan bermakna demi menciptakan masa depan yang inklusif, sejahtera, dan berkelanjutan melalui peran strategis pendidikan tinggi, sains, dan teknologi.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index