JAKARTA - Munculnya jerawat di kulit wajah dapat dipicu oleh beragam aspek, seperti produksi sebum yang berlebih, ketidakseimbangan hormon, penyumbatan pori-pori oleh penumpukan sel kulit mati, hingga infeksi dari bakteri.
Dari sekian banyak jenis, jerawat hormonal dan jerawat bakterial merupakan dua varian yang paling sering dijumpai. Lantas, seperti apa perbedaan karakteristik serta langkah tepat untuk menanganinya?
Mengenal Karakteristik Jerawat Hormonal Sesuai namanya, jerawat hormonal terjadi akibat adanya fluktuasi hormon di dalam tubuh, seperti saat fase ovulasi, siklus bulanan wanita, masa kehamilan, atau karena gangguan medis berupa polycystic ovary syndrome (PCOS).
Jerawat jenis ini umumnya terlokalisasi di area wajah bagian bawah seperti sekitar rahang, dagu, serta leher dengan bentuk berupa kista kemerahan yang terasa nyeri berdenyut.
"Jerawat hormonal disebabkan oleh sensitivitas kulit terhadap hormon dominan pria yang disebut androgen, dengan testosteron sebagai pemicu utamanya," kata dermatologis Azadeh Shirazi, MD, melansir Byrdie, Rabu (8/7/2026).
Ia menambahkan, "Androgen merangsang kelenjar minyak untuk memproduksi minyak berlebih, yang memberi makan bakteri penyebab jerawat, sehingga jumlahnya membeludak dan menyumbat pori-pori,"
Karakteristik Jerawat Bakterial Di sisi lain, jerawat bakterial bukan termasuk kondisi medis yang berdiri sendiri. Masalah kulit ini muncul dari perpaduan antara melonjaknya populasi bakteri, proses peradangan, serta tingginya produksi minyak alami wajah.
Berbeda dengan tipe hormonal, jenis ini biasanya menyerang bagian wajah yang paling berminyak, seperti T-zone (dahi, hidung) dan kedua pipi. Bentuknya cenderung lebih dangkal di permukaan kulit, berwarna kemerahan, dan tampak meradang.
"Organisme jamur dan bakteri adalah penghuni normal kulit yang membentuk mikrobioma kulit alami kami, mirip dengan mikroflora pada usus," jelas dermatologis Diane Madfes, MD.
"Ketika terjadi ketidakseimbangan atau gangguan pada iklim mikrobioma tersebut, hal itulah yang memicu jerawat," imbuh dia.
Mengidentifikasi Jenis Jerawat Anda Menurut penjelasan dari dermatologis Anna Chacon, MD, jika Anda menyadari bahwa jerawat yang meradang selalu muncul pada periode tertentu dalam siklus menstruasi, maka kemungkinan besar masalah tersebut adalah jerawat hormonal.
"Banyak masalah jerawat bermula dari ketidakseimbangan hormon, tetapi terkadang kondisinya semakin parah akibat bakteri, yang bisa muncul sebagai komedo hitam, benjolan mirip kista, atau sumbatan di folikel rambut kamu," ujar dr. Chacon.
Untuk memastikan jenis jerawat secara akurat, berkonsultasi langsung ke dokter spesialis kulit lewat pemeriksaan fisik maupun tes darah adalah tindakan yang paling disarankan.
Menjaga keseimbangan ekosistem bakteri pada permukaan kulit juga memegang peranan yang krusial.
"Jika kamu punya bakteri jahat yang diimbangi oleh bakteri baik, kondisi ini akan mengendalikan si bakteri jahat dan mencegah jerawat bakterial. Hormon turut ambil peran di sini, karena hormon juga memengaruhi iklim mikro kulit," ucap dia.
Metode Penanganan Jerawat Hormonal Guna menstabilkan kondisi hormon sekaligus menekan laju produksi minyak, dokter umumnya akan meresepkan pil KB. Pilihan terapi medis lainnya yang sering diandalkan adalah obat spironolactone.
"Spironolactone sebenarnya adalah pil air, tetapi bekerja sangat baik untuk jerawat hormonal dengan mencegah androgen seperti testosteron merangsang produksi minyak, yang berarti lebih sedikit pori-pori tersumbat dan bakteri penyebab jerawat," jelas dr. Shirazi.
Sebagai langkah pendukung, pastikan untuk selalu memilih produk kosmetik yang berlabel non-comedogenic agar tidak menyumbat pori-pori wajah.
Saat mengaplikasikan produk obat jerawat, gunakan secukupnya saja atau seukuran biji kacang polong. Penggunaan obat yang berlebihan justru berisiko merusak pertahanan kulit karena memicu iritasi dan kekeringan.
"Jangan berlebihan menggunakan terlalu banyak produk, dan pakailah pelembap secara teratur demi menjaga fungsi pelindung kulit tetap sehat," imbau dr. Shirazi.
Penerapan pola hidup yang sehat juga sangat memengaruhi pemulihan kulit, termasuk memenuhi kebutuhan tidur dan membatasi asupan produk turunan susu (dairy products).
Dr. Shirazi memaparkan bahwa temuan ilmiah terbaru mengindikasikan konsumsi produk olahan susu dapat memperparah kondisi jerawat karena memicu hormon testosteron pada beberapa individu.
"Penyebab terburuknya adalah produk susu bebas lemak dan susu skim. Menghilangkan lemak dari konsentrat susu membuatnya terserap lebih cepat, sehingga memicu lonjakan hormon penyebab jerawat," ujar dia.
Langkah Mengatasi Jerawat Bakterial dan Jamur Penggunaan produk skincare dengan kandungan bahan aktif seperti retinoid atau benzoil peroksida dinilai sangat ampuh untuk membasmi bakteri serta membersihkan kotoran yang menyumbat pori-pori. Pada beberapa kasus tertentu, intervensi medis menggunakan obat antibiotik juga kerap diperlukan.
"Ada kalanya peradangan terjadi lebih dalam dan lebih parah. Oleh karena itu, antibiotik khusus jerawat diperlukan tidak hanya untuk membasmi bakteri, tetapi juga meredakan peradangannya," ucap dr. Shirazi.
Terakhir, Anda juga perlu waspada terhadap potensi jerawat jamur (fungal acne) yang dipicu oleh infeksi jamur Malassezia atau Pityrosporum folliculitis. Masalah ini ditandai dengan munculnya bruntusan atau benjolan kecil kemerahan yang terasa gatal di sekitar pelipis dan dahi, di mana penanganannya membutuhkan obat antijamur khusus.