Penumpang KAI Naik di Semester I/2026, Didominasi Pengguna KRL

Rabu, 08 Juli 2026 | 22:08:31 WIB
KAI Catat Jumlah Penumpang Semester I/2026 Naik, KRL Mendominasi [FOTO: NET].

JAKARTA - Eskalasi kuantitas penumpang commuter line atau kereta rel listrik (KRL) sepanjang paruh pertama (semester I) tahun 2026 membuktikan bahwa sarana transportasi berbasis rel tetap memegang peran krusial selaku penopang mobilitas warga di kawasan urban.

Manajemen PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau PT KAI merilis data bahwa KAI Commuter telah mengakomodasi sebanyak 204,15 juta pengguna sepanjang rentang waktu Januari sampai Juni 2026, alias melonjak sebesar 6,58% jika dikomparasikan dengan periode serupa di tahun sebelumnya yang menyentuh angka 191,54 juta pengguna. 

Secara akumulatif, KAI Group sukses memobilisasi hingga 258,99 juta pengguna pada semester I/2026. Data ini mengindikasikan bahwa porsi sebesar 78,82% dari total penumpang yang difasilitasi oleh KAI didominasi oleh kaum komuter.

Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin memaparkan bahwa lompatan jumlah pengguna ini merepresentasikan tren penguatan animo serta kepercayaan publik atas mutu pelayanan moda kereta api, baik untuk keperluan mobilitas harian, rute antarkota, aksesibilitas menuju bandar udara, hingga pergerakan di area perkotaan.

"Angka ini menunjukkan bahwa kereta api semakin dipilih masyarakat untuk perjalanan yang aman, terjangkau, dan terintegrasi,” ujarnya dalam keterangan resmi, dikutip Selasa (7/7/2026).

Bobby menandaskan bagi jajaran internal KAI, tren lonjakan ini wajib senantiasa diiringi dengan akselerasi pembenahan di sektor keselamatan, standarisasi mutu pelayanan, serta penyaluran faedah yang jauh lebih masif bagi khalayak luas.

Di samping moda KRL, lini pelayanan perkeretaapian lainnya turut membukukan performa pertumbuhan yang positif. Rute kereta api jarak jauh berikut kereta lokal tercatat memfasilitasi 29,86 juta pengguna atau terkoreksi naik sebesar 8,72% secara tahunan. 

Sementara itu, LRT Jabodebek menempati kasta tertinggi dalam hal laju pertumbuhan di area perkotaan usai volume pelanggannya melesat tajam sebesar 22,84% menuju angka 16,02 juta pengguna. 

Moda KA Makassar–Parepare tercatat melayani sebanyak 172.015 pengguna, alias tumbuh berkisar 15,44% jika disandingkan dengan performa Semester I 2025 yang menampung 149.014 pengguna. Di sektor pariwisata, KAI Wisata melayani 164.743 pelanggan, atau melonjak drastis hingga 64,45%.

Ketua Forum Transportasi Perkeretaapian Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Deddy Herlambang memberikan pandangan bahwa penguatan grafik kuantitas pengguna KRL tidak sepenuhnya didorong oleh fenomena hijrahnya warga dari moda kendaraan pribadi maupun jenis transportasi lainnya.

 Teruntuk kawasan Jabodetabek, eskalasi jumlah pelaju sejatinya telah bergulir secara kontinu sejak level mobilitas berangsur pulih pascaera pandemi Covid-19.

Mencermati arah tren yang ada, kuantitas pelaju KRL di skala nasional memang mendokumentasikan grafik peningkatan konsisten sejak berakhirnya wabah Covid-19. Sepanjang kurun tahun 2025, KAI terdata memfasilitasi hampir 401 juta pengguna KRL, sebuah torehan angka yang melesat melampaui tiga kali lipat dibanding pencapaian tahun 2021 yang berada di angka 124,86 juta orang.

Menurut pemaparannya, akselerasi pertumbuhan pengguna KRL koridor Jabodetabek intensitasnya tidak lagi sepesat periode sebelumnya semenjak beroperasinya layanan Transjakarta untuk trayek Bogor-Blok M pada pertengahan tahun 2025. 

Sebagian dari pengguna setia KRL, terkhusus bagi mereka yang berasal dari rute pelintasan Bogor, mulai memindahkan pilihan ke moda bus lantaran faktor besaran tarif yang dinilai lebih ekonomis serta rute perjalanan yang langsung mengarah ke titik pusat kegiatan tanpa perlu direpotkan dengan aktivitas berganti moda transportasi.

"Sebagian pengguna KRL Bogor migrasi ke Transjakarta. Bukan hanya menghindari kepadatan, tetapi juga karena trayeknya langsung ke Blok M. Kalau naik KRL banyak yang harus transit dan biaya perjalanan terakhir juga lebih mahal," kata Deddy.

Di lain pihak, Pengamat Transportasi Ki Darmaningtyas memproyeksikan bahwa fenomena naiknya grafik penumpang kereta api dipicu oleh eksistensi dua instrumen stimulan. Di samping imbas dari kian bertambahnya populasi warga yang mengais rezeki di Jakarta, moda kereta api kian digandrungi lantaran menyajikan garansi ketepatan waktu tempuh perjalanan.

Berdasarkan analisisnya, aspek kepastian estimasi waktu bertindak selaku nilai plus yang terhitung sukar ditandingi oleh kepemilikan kendaraan pribadi ataupun sarana angkutan jalan raya yang senantiasa rentan terjebak jeratan macet. Realitas keunggulan ini mempermudah para pekerja dalam mengkalkulasikan estimasi waktu ketibaan mereka di tempat kerja.

"Kereta api dinilai lebih tepat waktu dibandingkan kendaraan pribadi atau kendaraan umum berbasis bus sehingga orang mudah memprediksi waktu kedatangannya di kantor," ujarnya.

Ia turut memberikan catatan pengingat bahwa fenomena padatnya kuantitas penumpang ini wajib diimbangi dengan sokongan nyata dari pihak pemerintah lewat skema penyaluran dana subsidi pelayanan yang tepat waktu. Kasus keterlambatan pencairan dana subsidi berisiko mengganggu ritme perawatan fasilitas sarana di saat pihak operator terpaksa harus mengalokasikan dana talangan terlebih dahulu demi menyokong kelancaran operasional pelayanan.

Adapun selaras dengan tren peningkatan kuantitas pengguna tersebut, manajemen KAI kini tengah menggenjot pengerjaan proyek ekspansi area perkonan di Stasiun Bogor serta pembenahan sistem persinyalan di sepanjang jalur lintasan Tanah Abang—Rangkasbitung. Langkah ini diambil mengingat PT KAI memproyeksikan bahwa volume pergerakan pelaju KRL Jabodetabek bakal terus merangkak naik hingga menembus angka target 437 juta penumpang pada periode tahun 2030 mendatang.

Terkini