Dinamika Pertemanan: Alasan Teman Dekat Menjauh Saat Dewasa

Sabtu, 04 Juli 2026 | 20:55:31 WIB
Mengapa Sahabat Perlahan Menjauh Saat Memasuki Usia Dewasa? [FOTO: NET].

JAKARTA - Pernah memiliki kawan karib yang dahulunya senantiasa mendampingi ke mana pun pergi, namun seiring bertambahnya umur justru kian berjarak? Pada fase dewasa, merawat lingkaran pergaulan rupanya bertransformasi menjadi problematika tersendiri. 

Padatnya agenda mengurus buah hati, mengejar karier, mendampingi orang tua, hingga berpindah domisili ke luar kota, acap kali membikin kawan terdekat perlahan renggang tanpa didahului oleh perselisihan sebelumnya. Fakta anyar ini tidak jarang menumbuhkan rasa sepi serta kedukaan yang mendalam. 

Padahal, kami tetap membutuhkan kehadiran teman demi saling menguatkan dan membagikan keluh kesah.

"Sebagian besar pertemanan kami di usia 20-an terbangun karena kedekatan fisik, seperti teman sekolah, teman sekamar, atau rekan kerja di awal karier," ungkap psikiater dan penasihat klinis di The Garden Recovery & Wellness, Lauren Grawert, MD, FASAM, menyadur Real Simple, Jumat (3/7/2026).

Tatkala menginjak usia 30-an, ritme hidup berganti menjadi kian kompleks dan sarat beban tanggung jawab, semisal durasi kerja yang panjang, menjalin relasi asmara, atau mengasuh anak.

Perubahan dinamika pertemanan orang dewasa

Pergeseran prioritas dan jati diri

Selaras bertambahnya umur, format serta fungsi dari sebuah pertemanan condong ikut bergeser menyelaraskan prioritas hidup. Waktu terluang demi sekadar berkumpul kian menyusut. Pada momen yang sama, karakter serta nilai-nilai kehidupan pun melewati pergeseran.

"Menurut saya, alasan utama pertemanan sangat berubah dari usia 20-an ke 30-an adalah karena ini fase transisi yang terus berjalan bagi kebanyakan orang," jelas terapis di Key Counseling Group, Matko Mosunjac, LMSW.

Tahapan ini teramat krusial dalam mengonsep jati diri seorang individu, baik itu lewat pencapaian pekerjaan maupun cita-cita lainnya. Jikalau seseorang kesusahan mendeteksi jati dirinya atau merasa belum mapan, perkara ini dapat melonggarkan atau justru mengerdilkan lingkaran pergaulannya. 

Di samping itu, aspek eksternal layaknya kendala kesehatan anggota keluarga atau sekadar disparitas prinsip pun dapat memantik rasa canggung. Maka dari itu, teramat wajar bila kawan lama perlahan menjauh kendati kalian tidak pernah bersitegang hebat.

Tips menghadapi perubahan dinamika pertemanan

Validasi perasaan kehilangan

Kehilangan kawan dekat tanpa adanya momentum perpisahan yang gamblang, nyatanya dapat menyisakan luka psikologis. Otak merekam sirnanya kehidupan sosial ini identik layaknya kala Anda didera kedukaan lainnya. 

Tidak harus ada pertengkaran atau bahkan kematian untuk membuat kami berduka atas hilangnya babak hidup bersama seorang sahabat, maupun impian masa depan yang pernah dirancang bersama.

Perpisahan ini kerap kali bergulir tanpa disertai obrolan konklusi yang pasti, sehingga banyak individu merasa kian terbebani. Guna menyiasati hal itu, jangan bimbang untuk memvalidasi kepedihan yang dirasakan.

Ilustrasi menyendiri.(Magnific)

Orang dewasa acap kali membohongi diri sendiri dengan berujar, "Aku tidak boleh sedih soal temanku, toh tidak ada kejadian buruk".

"Padahal, mengakui seberapa berharganya pertemanan itu justru akan membantu melangkah maju dengan lebih baik," tambah dia.

Perluas sudut pandang dan kenang hal baik

Ketiadaan sebuah resolusi yang pasti kerap kali memaksa kami menebak-nebak apa yang keliru. Apabila Anda memenuhi ruang kosong ini dengan narasi negatif, legitimasi sepihak, atau bahkan dendam, Anda justru tengah memperparah luka batin.

"Memproses kesedihan ini butuh penerimaan penuh sejak awal dan latihan melihat sesuatu dari sudut pandang yang lebih luas," ucap Mosunjac.

Usai melampaui fase itu, Anda dapat perlahan mengingat kembali fragmen spesifik dari jalinan pertemanan yang kini merenggang tersebut.

"Harapannya, ini membuatmu kamu sadar bahwa kamu tidak sendirian dan hal ini adalah bagian yang sangat wajar dari pengalaman manusia," tutur Mosunjac.

Setelah sanggup mengikhlaskan keadaan, sediakan ruang demi mengingat memori manis yang sempat dilewati. Coba tanyakan pada diri sendiri hikmah berharga apa yang dipetik dari pertemanan itu, ketimbang sibuk mengira-ngira mengapa jalinan itu menyublim. 

Tidak perlu pula terlampau meromantisasi masa lalu, cukup fungsikan itu sebagai instrumen mengapresiasi andil kawan tersebut dalam roda kehidupan.

Terima perubahan sebagai pertumbuhan

Di masa mendatang, Anda tentu bakal menjumpai kawan baru yang sanggup mengulurkan sokongan lewat cara mereka sendiri. Ingatlah bahwasanya relasi pertemanan di usia dewasa bakal terus bertransformasi.

"Lingkaran sosial yang terus berubah sebenarnya jadi penanda adanya pertumbuhan dalam hidupmu, dan ini pantang dianggap sebagai kegagalan menjadi teman yang baik," papar Grawert.

Beberapa pertemanan barangkali bakal kian solid, sebagian lagi perlahan memudar, dan boleh jadi ada teman lama yang kembali menyapa bertahun-tahun kemudian. Nikmati saja tiap prosesnya, lantaran itu semua hanyalah tahapan lumrah dari pendewasaan, bukan indikator dari seberapa bernilainya eksistensi dirimu.

Terkini