Dampak BI Rate 5,75% Bagi Investasi Dana Pensiun

Kamis, 02 Juli 2026 | 00:17:01 WIB
Asosiasi Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK). (Foto: NET)

JAKARTA — Asosiasi Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK) memandang lonjakan suku bunga acuan atau BI Rate ke level 5,75% memberikan efek positif bagi potensi imbal hasil dari alokasi baru di instrumen deposito serta SBN seri paling gres.

Akan tetapi, Ketua Umum Asosiasi DPLK Tondy Suradiredja menyebutkan bahwa peningkatan suku bunga ini pun mempunyai risiko mereduksi nilai pasar dari portofolio obligasi lama yang dihitung lewat mekanisme mark-to-market dalam jangka pendek.

“Hal yang perlu diwaspadai ke depannya adalah potensi penurunan nilai mark-to-market pada portofolio obligasi jangka panjang yang sudah dimiliki, serta ketidakpastian ekonomi global yang dapat memengaruhi kinerja pasar secara keseluruhan,” katanya, Kamis (2/7/2026).

Maka dari itu, Tondy memaparkan bahwa langkah investasi industri bakal terus menitikberatkan pada penyelarasan durasi portofolio guna menekan risiko merosotnya nilai aset.

Ia kemudian menjabarkan hambatan utama bagi industri dana pensiun dalam mengatur investasi pada masa sekarang yakni tingginya gejolak pasar keuangan global, pergerakan suku bunga, beserta tensi geopolitik dunia yang berdampak pada kinerja aset.

“Industri juga menghadapi tekanan untuk memberikan imbal hasil optimal bagi peserta di tengah ketidakpastian makroekonomi. Untuk menghadapinya, pelaku industri harus memperkuat tata kelola dan manajemen risiko investasi secara berkala,” ucapnya.

Di samping itu, rencana strategis berikutnya yakni menjalankan diversifikasi portofolio secara terukur dan memanfaatkan momentum yield dari instrumen pendapatan tetap. Contohnya, penempatan pada SBN serta deposito didasarkan pada asas kehati-hatian serta keharusan menjaga likuiditas demi penyaluran manfaat pensiun.

“SBN dipilih karena menawarkan keamanan tinggi dengan jaminan negara, imbal hasil yang stabil, dan kesesuaian durasi dengan kewajiban jangka panjang dana pensiun. Sementara itu, deposito dan tabungan memberikan fleksibilitas tinggi untuk pengelolaan arus kas jangka pendek serta perlindungan modal dari volatilitas pasar,” jelas Tondy.

Apalagi, ia menambahkan, regulasi dari pihak OJK pun ikut mengarahkan industri agar mengalokasikan dana ke instrumen dengan profil risiko yang aman serta terukur.

Pada kesempatan terpisah, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) berpendapat bahwa naiknya suku bunga acuan atau BI Rate menjadi 5,75% bisa memengaruhi rencana investasi industri dana pensiun, terutama dalam pengaturan portofolio pendapatan tetap dan pasar uang.

Kendati begitu, SBN diprediksi bakal tetap menjadi instrumen primer pilihan industri karena menyajikan perpaduan antara aspek keamanan, likuiditas, dan kecocokan dengan keperluan investasi jangka panjang dana pensiun.

Terkini