KAEF Genjot Obat Kronis dan Suplemen demi Pertumbuhan 2026

Kamis, 02 Juli 2026 | 23:08:31 WIB
PT Kimia Farma Tbk (KAEF). (Foto: NET)

JAKARTA - PT Kimia Farma Tbk (KAEF) tengah merancang beragam taktik guna mendongkrak performa bisnis mereka pada tahun 2026. Langkah strategis yang bakal ditempuh mencakup perilisan produk anyar, optimalisasi produksi bahan baku obat domestik, hingga peningkatan integrasi pada layanan kesehatan.

Plt. Direktur Utama Kimia Farma, Hadi Kardoko, memaparkan bahwa penciptaan serta peluncuran produk baru masuk dalam rencana penguatan portofolio bisnis sekaligus menyokong agenda alih rupa perusahaan. 

Fokus utama dari pembuatan produk ini ditargetkan pada dua sektor, yaitu obat-obatan untuk penyembuhan penyakit kronis serta lini non-farmasi. 

Pada lini farmasi, Kimia Farma menyasar konsumsi pasien penyakit menahun seperti tekanan darah tinggi, kencing manis, serta gangguan jantung yang jumlahnya terus melonjak mengikuti pergeseran demografi dan penambahan populasi lansia.

"Hal ini sejalan dengan tren peningkatan kebutuhan terapi jangka panjang, khususnya pada kelompok usia dewasa dan lansia. Produk yang menjadi fokus pengembangan Perseroan antara lain gliclazide," ujar Hadi, Rabu (1/7/2026).

KAEF pun memperkokoh lini produk non-farmasi, khususnya komoditas nutrisi serta suplemen kesehatan yang diproyeksikan punya potensi pertumbuhan yang cerah. 

Tren positif ini berjalan beriringan dengan semakin tingginya kesadaran warga dalam mengantisipasi penyakit, melakukan cek kesehatan berkala, dan tuntutan menjaga kualitas hidup, utamanya bagi kalangan lansia serta pasien dengan potensi penyakit kronis. 

Bukan cuma bertumpu pada pemasaran produk, Kimia Farma juga menangkap prospek keterpaduan dengan layanan kesehatan lewat jaringan fasilitas diagnostik yang mereka kelola. 

Melalui pola ini, perusahaan tidak sekadar mendistribusikan produk, melainkan ikut menyokong kebutuhan publik akan fasilitas kesehatan yang lebih bersifat pencegahan serta jangka panjang.

Di lain sisi, jajaran manajemen membenarkan bahwa sektor farmasi domestik masih didera bermacam kendala struktural, mulai dari ketergantungan pasokan bahan baku luar negeri, fluktuasi kurs mata uang, tekanan ongkos produksi serta distribusi, hingga kewajiban pemenuhan standar kualitas dan aturan yang kian ketat. 

Bukan itu saja, ada pula rintangan berupa pemangkasan harga atau price erosion pada produk obat untuk sektor pemerintahan, yang mana Kimia Farma bertindak sebagai salah satu pembuat utama untuk menyuplai pasar pemerintah lewat program BPJS Kesehatan.

"Kondisi tersebut juga membuka peluang besar bagi industri farmasi nasional untuk memperkuat kemandirian, khususnya melalui pengembangan bahan baku obat dalam negeri, peningkatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), inovasi produk, serta optimalisasi kapasitas produksi nasional," ujarnya.

Bagi Kimia Farma, situasi ini menjadi fase krusial dalam program transformasi menyeluruh yang tengah digulirkan perusahaan saat ini. Pihak perseroan terus memacu penguatan portofolio produk, efisiensi operasional, digitalisasi sistem bisnis, pemrosesan bahan baku obat domestik, sampai peningkatan keterpaduan layanan kesehatan.

Hadi berpendapat, kesuksesan dalam memajukan industri farmasi domestik juga memerlukan sokongan kebijakan yang selaras, dapat diterapkan, serta mampu memberi kepastian usaha bagi para pelaku bisnis. 

Di samping itu, kemitraan antara pihak pemerintah, pelaku usaha, universitas, badan penelitian, serta pusat pelayanan kesehatan dipandang sebagai aspek krusial demi mempercepat inovasi, mendongkrak mutu SDM, sekaligus memperkukuh daya tampung industri farmasi domestik.

"Melalui sinergi tersebut, diharapkan dapat tercipta ekosistem industri farmasi yang semakin tangguh, inovatif, berdaya saing, dan mampu mendukung ketahanan kesehatan nasional secara berkelanjutan," tutup Hadi.

Terkini