Kenapa Suka Menunda Pekerjaan? Ini Penyebabnya Menurut Psikolog

Senin, 29 Juni 2026 | 23:41:32 WIB
Ilustrasi - Di tengah tekanan karier dan quarter-life crisis, banyak anak muda tanpa sadar menjadikan pekerjaan sebagai ukuran nilai diri, padahal identitas seseorang jauh lebih luas daripada profesinya. (Foto: NET)

JAKARTA – Pernahkah Anda merasa sudah memahami apa yang mesti diselesaikan, bahkan telah membuat rencana, tetapi tetap saja tidak segera melangkah? Pekerjaan yang sejatinya simpel malah terasa amat membebani hingga terus-menerus diulur. 

Menyadur dari Verywell Mind, terdapat aspek emosional yang mampu membikin individu kesulitan mengeksekusi tindakan pertama. 

Salah satu teori yang menerangkan situasi ini ialah wall of awful, sebuah istilah yang kerap dipakai demi memaparkan rintangan emosional tatkala mau mengawali tugas, utamanya pada individu dengan Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder (ADHD). Lalu, apa alasan seseorang sukar memulai kegiatan padahal mengerti bahwa agenda tersebut krusial?

Penyebab seseorang sukar memulai aktivitas berlandaskan penjelasan psikolog:

1. Pekerjaan memicu sentimen negatif Berdasarkan pemaparan psikolog klinis Aimee Daramus, PsyD, agenda yang tampak simpel dapat terasa sangat membebani sewaktu berkelindan dengan memori emosional yang kurang mengenakkan.

"Wall of awful bukanlah tembok yang sesungguhnya. Ini adalah penghalang emosional yang terbentuk dari pengalaman gagal, rasa malu, takut dikritik, atau emosi negatif lain yang terkait dengan suatu tugas," jelas Daramus kepada Verywell Mind, Senin (29/6/2026).

Maksudnya, sewaktu individu hendak mengeksekusi suatu pekerjaan, hal yang dihadapi bukan cuma kewajiban itu sendiri, melainkan juga bermacam emosi yang sempat timbul akibat memori terdahulu. 

Contohnya, individu bernasib kurang mujur karena memperoleh celaan tajam saat menyusun presentasi. Sewaktu mesti menyusun presentasi kembali, memori dapat menghubungkan tugas itu dengan kecemasan atau ketakutan akan kegagalan, sehingga timbul impuls untuk mengelak.

2. Kian lama diulur, kian terasa membebani Menurut Daramus, rintangan emosional ini bisa terus menumpuk seiring bergulirnya waktu.

"Setiap pengalaman negatif dapat menambah 'lapisan' pada tembok tersebut sehingga memulai tugas berikutnya menjadi semakin sulit," ujarnya.

Imbasnya, individu mungkin merasa kewalahan bahkan sebelum benar-benar mengawali pekerjaan. Penguluran yang berlangsung setelahnya justru mempertegas asumsi bahwa agenda tersebut memang sukar dirampungkan. Pola berulang ini dapat memicu individu kian kerap menunda-nunda pekerjaan.

3. Otak cenderung menghindari ketidaknyamanan Daramus menjabarkan bahwa manusia secara natural condong menjauhi keadaan yang memicu stres atau ketidaknyamanan emosional. 

Oleh sebab itu, individu mungkin lebih memilih mengeksekusi kesibukan lain yang dirasa lebih menghibur, seperti berselancar di media sosial, merapikan meja, atau menonton video, kendati mengerti pekerjaan utama tetap mesti dirampungkan.

Dalam jangka pendek, peralihan fokus memang mampu membikin individu merasa lebih plong. Akan tetapi, setelah itu sentimen bersalah akibat belum merampungkan pekerjaan justru dapat menyeruak dan memperlebar rintangan untuk melangkah.

4. Rintangan ini dapat ditangani secara bertahap Menurut Daramus, esensi utamanya bukan meminggirkan rasa tidak nyaman secara total, melainkan melatih diri menyikapi emosi tersebut secara gradual. Salah satu taktik yang dapat diterapkan ialah membagi pekerjaan menjadi komponen-komponen kecil agar tugas terasa lebih ringan dimulai.

Bukan cuma itu, individu juga dapat mencoba mendeteksi emosi yang menyeruak sebelum bekerja, menyusutkan standar yang terlampau tinggi, serta mengapresiasi diri sendiri tiap kali sukses merampungkan satu komponen kecil. 

Lewat formula ini, pengalaman positif secara perlahan mampu menggeser memori negatif yang sepanjang ini membangun rintangan emosional tersebut.

Disclaimer Mesti dipahami bahwa konsep wall of awful bukan sebuah diagnosis medis, melainkan sebuah koridor yang dimanfaatkan demi membantu mencerna rintangan emosional tatkala mengawali tugas. 

Kendati istilah ini kerap dipakai dalam ulasan seputar ADHD, problem memulai aktivitas juga dapat dipengaruhi oleh bermacam aspek lain. 

Apabila situasi tersebut berlangsung terus-menerus sampai mengacaukan pekerjaan, pendidikan, atau rutinitas harian, melakukan konseling dengan psikolog atau praktisi kesehatan mental dapat membantu menemukan pemicu dan solusi yang tepat.

Terkini