Penjualan 2025 Lemah, Pendapatan Ciputra (CTRA) 2026 Diproyeksi Turun 10%

Senin, 29 Juni 2026 | 23:13:31 WIB
PT Ciputra Development Tbk. (CTRA). (Foto: NET)

JAKARTA — PT Ciputra Development Tbk. (CTRA) memperkirakan pendapatan beserta laba bersih mereka bakal merosot hingga kisaran 10% pada tahun 2026 ini jika dikomparasikan dengan perolehan tahun lalu.

Sekretaris Perusahaan CTRA Aditya Ciputra mengonfirmasi bahwa pihak perseroan tetap mempertahankan target penjualan setara bauran pemasaran (marketing sales) di angka Rp9,5 triliun untuk tahun ini. Di sisi lain, korporasi justru mengestimasikan adanya penyusutan omzet dan laba bersih sekitar 10% dari performa tahun sebelumnya.

Ia memaparkan bahwa taksiran penurunan ini bukan dikarenakan oleh memburuknya operasional perusahaan saat ini, melainkan imbas dari lesunya realisasi penjualan sepanjang tahun 2025.

"Di perusahaan properti, pendapatan baru diakui ketika pembangunan selesai dan unit diserahterimakan. Jadi ketika pre-sales tahun 2025 turun, dampaknya memang baru terlihat pada pendapatan tahun 2026," ujarnya dalam paparan publik yang dikutip, Senin (29/6/2026).

Sementara itu, perolehan pendapatan CTRA sepanjang 2025 berada di angka Rp12,7 triliun atau tumbuh 13% dari tahun sebelumnya yang sebesar Rp11,2 triliun. Laba bersih yang dikantongi CTRA mencapai Rp2,7 triliun, naik 25% dibandingkan tahun sebelumnya yang senilai Rp2,1 triliun.

Berdasarkan keterangan perseroan, penurunan pre-sales tahun lalu utamanya dipicu oleh segmen perumahan kelas menengah ke bawah yang terimbas penurunan daya beli masyarakat.

Sebaliknya, lini bisnis properti investasi mencakup perhotelan, mal, rumah sakit, hingga klinik masih menunjukkan tren pertumbuhan. Kendati demikian, pasokan dari lini usaha tersebut belum mampu menutupi penyusutan penjualan pada segmen residensial yang sejauh ini masih menjadi motor utama pendapatan perusahaan.

Guna mengejar target marketing sales tahun ini, CTRA bakal bertumpu pada proyek residensial segmen menengah ke atas yang dinilai punya basis permintaan lebih kuat. 

Beberapa proyek utama yang diandalkan menjadi penggerak omzet antara lain CitraGarden City Jakarta, CitraGarden Serpong, CitraGarden Bintaro, ditambah dua proyek anyar yaitu Citra Maja Raya dan Citra Bukit Tumbuh. Mayoritas unit yang dipasarkan dibanderol dengan harga di atas Rp1,5 miliar.

Manajemen memandang segmen menengah ke atas masih memperlihatkan ketahanan yang lebih kokoh ketimbang segmen menengah ke bawah dalam situasi ekonomi terkini.

Kendati demikian, tantangan pada sektor industri properti dirasa belum sepenuhnya mereda. Pihak manajemen mengungkapkan potensi kenaikan suku bunga acuan menjadi ancaman utama bagi bisnis penjualan rumah, mengingat berkisar 72% skema pembelian konsumen CTRA memanfaatkan fasilitas KPR. 

Jika suku bunga acuan mendaki dan diikuti lonjakan bunga KPR akibat ketatnya likuiditas perbankan, minat publik untuk membeli hunian diproyeksikan bakal ikut tertekan.

"Apapun yang berdampak negatif terhadap KPR pasti akan berdampak pada pembelian rumah," ujarnya.

Di sudut lain, CTRA tetap menangkap peluang ekspansi seandainya geliat ekonomi nasional terus membaik. Perseroan melihat pasar properti saat ini lebih banyak digerakkan oleh konsumen pemakai langsung (end user) ketimbang kalangan investor, sehingga perbaikan daya beli masyarakat akan menjadi stimulus utama pemulihan permintaan.

Ia pun membenarkan bahwa stimulus Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) tetap memberikan sokongan pada penjualan. Pada kuartal I/2026, CTRA mengumpulkan pendapatan prapenjualan (marketing sales) senilai Rp2,4 triliun, di mana sekitar 51% transaksi menggunakan fasilitas pajak tersebut. 

Kendati begitu, emiten menilai kehadiran PPN DTP saat ini bukan lagi pendorong baru karena program tersebut telah diimplementasikan dalam waktu yang cukup lama. Prioritas utama perseroan kini difokuskan pada penguatan segmen menengah atas.

Merujuk pada data paparan publik, CTRA membukukan koreksi pendapatan sebesar 6,4% secara year-on-year (yoy), dari Rp2,7 triliun pada kuartal I/2025 menjadi Rp2,558 triliun pada kuartal I/2026. Penurunan di segmen Pengembangan Properti untuk Dijual tercatat sebesar 9,2%, sedangkan segmen Pendapatan Berulang justru merangkak naik 4,6%.

Selaras dengan performa itu, keuntungan bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk ikut menyusut 21,5% secara tahunan menjadi Rp518 miliar pada kuartal I/2026.

Selama periode kuartal I/2026, CTRA telah merilis Klaster Cedarwood @Forestine di proyek CitraGarden City Jakarta, Klaster Hortis Phase 2 di proyek Citra Garden Serpong, serta klaster anyar lainnya. 

Sedangkan pada paruh kedua atau semester II/2026, CTRA berencana meluncurkan Klaster Lacewood Phase 1 @The Forestine dan Klaster Solea Terrace di CitraGarden City Jakarta, Apartemen Kataluna di CitraLand City CPI Makassar, dan beberapa proyek lainnya.

Untuk menyokong pengembangan usaha, emiten menganggarkan dana belanja modal (capital expenditure/capex) senilai Rp1 triliun pada 2026. Mayoritas dana tersebut disiapkan guna memperkuat cadangan lahan (land banking), namun bukan dialokasikan untuk ekspansi ke area geografis baru. 

Aditya menerangkan, strategi land banking ini diprioritaskan demi mematangkan kepemilikan lahan di wilayah-wilayah proyek yang sudah ada.

Terkini