JAKARTA - Saat pertandingan Piala Dunia bergulir, fokus jutaan penonton biasanya tertuju pada performa pemain, taktik, dan aksi memukau di depan gawang.
Namun, sebelum peluit awal dibunyikan, sekelompok ahli telah bekerja keras siang dan malam untuk menjaga satu aspek tetap sempurna, yakni kualitas rumput lapangan. Bagi pengelola lapangan, kesuksesan tertinggi justru dicapai ketika tidak ada orang yang membicarakan kinerja mereka.
Area lapangan Piala Dunia sangat luas, sehingga sulit untuk diabaikan. Meski begitu, tim pemasang berharap penggemar tidak perlu memperhatikan kondisi lapangan.
Lapangan ideal adalah yang membuat pemain nyaman bergerak tanpa hambatan. Permukaan harus rata, tanpa lubang atau kerusakan rumput yang bisa mengganggu pijakan pemain saat bertanding.
Menukil laman Michigan State University (MCU), persiapan rumput stadion sangat rumit karena harus mengonversi stadion tim NFL yang menggunakan rumput sintetis menjadi rumput alami sesuai standar FIFA.
"Konsistensi (rumput lapangan yang berkualitas) di Piala Dunia bukanlah kebetulan, itu direkayasa dari awal," ujar Trey Rogers, peneliti rumput dari turfgrass research MCU.
"Untuk memastikan 16 stadion berbeda di tiga iklim berbeda memiliki performa yang sama, kami harus mengontrol semuanya, mulai dari campuran rumput yang tepat, cara permukaan dibangun dan diperkuat, hingga spesifikasi rumput dan tanah agar lapangan siap dipakai dan pulih setelah setiap pertandingan," tegasnya.
Di sisi lain, John Sorochan, profesor ilmu rumput di Departemen Ilmu Tanaman Universitas Tennessee, menuturkan bahwa tugas pengelola lapangan seharusnya menjadikan pertandingan sebagai fokus utama.
Mengutip artikel The World Cup pitches are the result of years of engineering to find just the right grass yang dimuat di Phys.org, keberhasilan pakar rumput adalah saat penonton mengabaikan kondisi lapangan karena terlalu terbuai dengan jalannya pertandingan.
"Kami ingin memberikan penghargaan kepada para manajer lapangan yang melakukan pekerjaan luar biasa untuk membuat lapangan ini terlihat indah, tetapi juga sempurna untuk permainan, dan orang-orang melihatnya dan mengaguminya. Tetapi kemudian mereka berkata, 'Oh, gol yang hebat itu, dan sundulan yang hebat itu,'" ucap Sorochan.
Dalam menciptakan permukaan terbaik, Universitas Tennessee dan Michigan State telah melakukan riset selama delapan tahun. Misi mereka adalah menghadirkan rumput hibrida yang memenuhi kebutuhan 16 stadion Piala Dunia di Kanada, Meksiko, dan Amerika Serikat.
FIFA menetapkan standar ketat bagi seluruh lapangan. Sebagian besar permukaan wajib menggunakan rumput alami dengan karakteristik permainan seragam agar tidak ada tim yang diuntungkan oleh kondisi lapangan.
Tantangan ini kian berat mengingat Piala Dunia melibatkan 48 tim dalam 104 pertandingan. Salah satu kendala utama terletak pada stadion yang sebelumnya menggunakan rumput sintetis.
Delapan stadion, tujuh di Amerika Serikat dan satu di Kanada, menggunakan permukaan rumput sintetis. Selain BC Place di Vancouver, semuanya merupakan kandang tim NFL. Lima di antaranya memiliki sistem stadion tertutup atau atap yang bisa dibuka-tutup.
Lumen Field di Seattle, markas tim NFL Seattle Seahawks, menjadi salah satu stadion pertama yang menjalani transformasi total. Lapangan sintetis diganti dengan rumput alami melalui proses kompleks.
Tim teknis memasang struktur drainase dan ventilasi berbentuk peti di atas lapangan lama, kemudian menambahkan lapisan pasir setebal 10 inci sebelum memasang rumput lokal.
Untuk menahan tekanan pertandingan internasional, rumput tersebut diperkuat dengan serat buatan. Seattle akan menggelar enam laga Piala Dunia, dan tim nasional wanita Amerika Serikat menjadi salah satu tim pertama yang mencoba permukaan baru tersebut pada April lalu.
Kapten timnas wanita AS, Lindsey Heaps, memberikan respons positif bagi para ahli rumput.
"Saya sama sekali tidak merasakannya, jadi itu berarti itu hal yang baik," ungkap Heaps.
Selain Seattle, Stadion SoFi di Los Angeles menjadi proyek akhir. Rumput dari negara bagian Washington dikirim pada 13 Mei, tepat 30 hari sebelum laga pembuka Piala Dunia antara Amerika Serikat dan Paraguay.
Menjaga rumput tetap hidup bukan sekadar mengganti permukaan sintetis menjadi alami, tetapi faktor cuaca juga menjadi tantangan besar.
Piala Dunia kali ini berlangsung di wilayah dengan iklim beragam. Monterrey di Meksiko memiliki cuaca panas dan lembap, sedangkan BC Place di Vancouver cenderung sejuk. Oleh karena itu, para ahli menggunakan dua campuran rumput berbeda. Untuk wilayah hangat, digunakan rumput Bermuda yang tahan suhu tinggi.
Untuk daerah dingin dan stadion dalam ruangan, digunakan campuran rumput gandum abadi dengan Kentucky bluegrass. Seluruh rumput untuk lokasi pertandingan dan latihan berasal dari 10 pertanian rumput yang tersebar di tiga negara tuan rumah.