Sektor Fintech Jadi Kunci Pertumbuhan Kinerja GOTO Kuartal III-2026

Rabu, 24 Juni 2026 | 22:00:31 WIB
PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO). (Foto: NET)

JAKARTA - Prospek usaha PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) pada kuartal III-2026 diprediksi masih mempertahankan tren positif. Pertumbuhan emiten teknologi ini ditopang oleh segmen layanan on-demand dan fintech yang terus berkembang, ditambah dengan upaya efisiensi operasional yang konsisten dilakukan.

Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis Setyo Wibowo, memperkirakan kinerja GOTO masih akan mencatatkan pertumbuhan pada kuartal III-2026. 

"Kinerja GOTO pada kuartal III-2026 masih berpotensi tumbuh positif dengan dukungan dari segmen on-demand services dan fintech, serta efisiensi operasional yang berlanjut. Namun pertumbuhannya kemungkinan lebih moderat karena persaingan yang tetap ketat," ujar Azis, Rabu (24/6/2026).

Pada kuartal I-2026, GOTO berhasil mencetak laba bersih sebesar Rp 171 miliar, yang menjadi laba kuartalan pertama sejak perusahaan melantai di Bursa Efek Indonesia. Di periode yang sama, adjusted EBITDA grup mengalami lonjakan 131% secara tahunan menjadi Rp 907 miliar.

Kontributor terbesar pertumbuhan tersebut berasal dari segmen fintech, dengan pendapatan bersih mencapai Rp 1,9 triliun atau naik 58% dibandingkan periode tahun sebelumnya. 

Sementara itu, bisnis on-demand services (ODS) yang mencakup layanan transportasi dan pesan antar membukukan pendapatan Rp 3,4 triliun, meningkat 12% secara tahunan, dengan adjusted EBITDA sebesar Rp 439 miliar atau naik 40%.

Menurut Azis, terdapat beberapa faktor krusial yang perlu dicermati investor dalam memantau prospek perusahaan ke depan. Hal ini mencakup perkembangan regulasi terkait pembatasan komisi platform transportasi daring maksimal 8%, dinamika persaingan industri, kondisi konsumsi domestik, hingga perkembangan bisnis fintech. 

Selain itu, arah suku bunga dan kondisi makroekonomi juga dinilai akan memengaruhi kinerja perusahaan dalam beberapa kuartal ke depan.

Terkait pasar modal, Azis menilai penurunan harga saham GOTO sejak awal tahun tidak sepenuhnya mencerminkan perubahan fundamental perusahaan. Tekanan pada harga saham lebih dipicu oleh sentimen pasar dibandingkan pelemahan operasional. 

"Koreksi harga saham GOTO sejak awal tahun relatif lebih besar dibanding perubahan fundamentalnya. Tekanan harga lebih banyak berasal dari sentimen regulasi, rotasi sektor, dan arus keluar investor asing," ujar Azis.

Lebih lanjut, ia menyoroti rencana pemerintah membatasi komisi platform transportasi daring maksimal 8%. Kebijakan tersebut berpotensi menekan pendapatan dan margin bisnis transportasi daring GOTO jika diterapkan. 

Dalam kondisi tersebut, Azis menilai segmen fintech akan berperan semakin krusial dalam menopang pertumbuhan laba perusahaan. 

"Jika pembatasan komisi platform diberlakukan, bisnis fintech berpotensi menjadi pendorong utama pertumbuhan laba melalui monetisasi layanan pembayaran dan berbagai layanan keuangan digital," kata Azis.

Meskipun prospek bisnis dianggap relatif positif, Azis belum merekomendasikan aksi agresif pada saham GOTO. Ia lebih memilih untuk bersikap hati-hati sambil memantau perkembangan regulasi dan kinerja perusahaan. 

"Untuk saat ini rekomendasi kami masih wait and see terhadap saham GOTO," tutup Azis.

Terkini