Meski Inflasi Beras Terjaga, Bapanas Tetap Gencarkan Pangan Murah

Rabu, 17 Juni 2026 | 22:32:31 WIB
Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), Andi Amran Sulaiman.

JAKARTA - Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), Andi Amran Sulaiman, menegaskan bahwa Gerakan Pangan Murah (GPM) akan terus dilaksanakan bersama pemerintah daerah, meskipun inflasi beras tercatat stabil selama dua tahun terakhir.

Langkah ini dilakukan sebagai upaya berkelanjutan dalam menjaga stabilitas harga pangan di seluruh Indonesia.

"Kita syukuri beras tak lagi menjadi penyumbang utama inflasi dalam dua tahun terakhir," ujar Amran dalam rapat pengendalian inflasi di Jakarta, Rabu. 

Ia menambahkan bahwa data BPS menunjukkan inflasi beras tetap rendah dan terkendali, dengan angka terbaru pada Mei 2026 sebesar 0,38 persen.

Untuk menjaga stabilitas harga, Amran meminta seluruh kepala daerah aktif menjalankan program pasar murah. 

Selain beras, ia juga berharap pasar murah dapat membantu menyerap (offtaker) komoditas telur dan daging ayam guna mendongkrak harga di tingkat peternak yang saat ini cenderung rendah. 

Hingga Juni 2026, Bapanas telah melaksanakan 5.308 kali GPM yang tersebar di 37 provinsi dan lebih dari 350 kabupaten/kota.

Senada dengan hal tersebut, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian mengonfirmasi bahwa beras bukan lagi komoditas penyumbang utama inflasi bulanan. 

Meski terdapat fluktuasi harga mingguan pada beberapa daerah, dampaknya dinilai masih terkendali dibandingkan kenaikan harga pada komoditas hortikultura seperti bawang merah dan cabai.

Selain stabilitas harga di hilir, pemerintah juga mencatat kabar positif dari sisi kesejahteraan petani. 

Berdasarkan data BPS, Indeks Nilai Tukar Petani (NTP) pada Mei 2026 mencapai 127,73, yang merupakan indeks tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. 

Khusus untuk subsektor tanaman pangan, indeks harga yang diterima petani padi pada Mei 2026 bahkan mencapai 147,97, angka tertinggi dalam tujuh tahun terakhir.

Terkini