Rupiah Melemah, TOTL Akui Biaya Material Konstruksi Mulai Naik

Selasa, 16 Juni 2026 | 02:48:01 WIB
PT Total Bangun Persada Tbk (TOTL). (Foto: NET)

JAKARTA – PT Total Bangun Persada Tbk (TOTL) menyatakan bahwa penurunan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kini mulai menekan operasional perusahaan. Dampak tersebut utamanya dirasakan pada kenaikan harga material serta komponen proyek yang berkaitan dengan mata uang asing.

Walau begitu, Sekretaris Perusahaan TOTL, Anggie S menyampaikan bahwa mayoritas kontrak beserta proses pengadaan yang dikelola perusahaan memakai mata uang rupiah. 

Namun, melemahnya nilai tukar tetap membawa efek secara tidak langsung pada beberapa material dan komponen khusus di proyek konstruksi.

"Meskipun relatif seluruh kontrak dan pengadaan menggunakan Rupiah, pelemahan kurs secara tidak langsung mulai memberikan dampak terhadap beberapa material dan komponen tertentu," ujar Anggie, Senin (15/6/2026).

Sebagai upaya mempertahankan keuntungan di tengah bayang-bayang kenaikan biaya logistik dan material, TOTL makin memperketat efisiensi pada seluruh lini bisnis. 

Ia menjelaskan, fokus strategi perusahaan saat ini tertuju pada penghematan pengadaan, pengawasan ketat anggaran proyek, dan menjaga ketepatan jalannya proyek demi mempertahankan performa bisnis.

Di samping itu, emiten konstruksi ini pun telah merumuskan bermacam rencana mitigasi risiko jika tekanan kurs terus berlanjut. Salah satunya melalui penyusunan contingency plan yang diselaraskan dengan kondisi serta keperluan tiap-tiap proyek.

Walaupun situasi pasar saat ini masih dipengaruhi oleh fluktuasi mata uang dan beban proyek, TOTL tetap memandang positif prospek bisnis di tahun ini. Pihak manajemen tetap berpegang pada target perolehan kontrak anyar di tahun 2026 karena dianggap masih masuk akal untuk diraih.

"Sejauh ini, target perolehan kontrak baru tahun 2026 masih inline dengan target yang telah ditetapkan," kata Anggie.

Sikap optimistis ini diperkuat oleh nilai kontrak baru yang konsisten meningkat. Sampai dengan Mei 2026, TOTL berhasil mengamankan kontrak baru berkisar Rp 2,6 triliun. 

Capaian ini diperoleh dari beberapa proyek besar, khususnya pembangunan pusat data (data center), penginapan, serta gedung-gedung bertingkat lainnya.

Menghadapi situasi ekonomi yang tidak menentu beserta ketidakstabilan nilai tukar, TOTL memilih untuk lebih berhati-hati dalam mengincar proyek mendatang. 

Manajemen menegaskan pihaknya kian prudent ketika mengikuti proses lelang ataupun menyepakati proyek baru dengan memperhitungkan segala aspek risiko secara matang.

Melalui pengawasan anggaran yang ketat serta penerapan strategi operasional yang fleksibel, perusahaan berkomitmen menjaga performa kerja sekaligus mengejar target pendapatan dan keuntungan yang dicanangkan untuk tahun 2026.

"Perusahaan terus memantau perkembangan kondisi pasar dan menjalankan strategi bisnis secara adaptif sesuai kebutuhan,” tandasnya.

Terkini