Perkuat Kemitraan, Jerman-RI Fokus pada Transisi Energi

Selasa, 16 Juni 2026 | 00:51:31 WIB
Duta Besar Jerman untuk Indonesia, Ralf Beste. (Foto: NET)

JAKARTA – Pemerintah Jerman dan Indonesia mempererat kolaborasi di sektor perdagangan, penanaman modal, serta transisi energi berkelanjutan seiring kunjungan Presiden Republik Federal Jerman Frank-Walter Steinmeier ke Jakarta, Senin (15/6/2026).

“Ada alasan sangat kuat yang membuat saya kembali lagi ke sini hari ini, di mana dunia tampaknya sedang terpecah belah dan ketidakpercayaan, politik kekuasaan dan kekerasan sedang meningkat di banyak tempat,” ujar Steinmeier dalam pernyataan yang dirilis Kedutaan Besar Jerman di Jakarta, Selasa (16/6/2026).

Steinmeier menilai kemitraan yang dapat diandalkan antar kedua negara sangat krusial. Oleh karena itu, ia menyatakan gembira kedua pihak bisa menyepakati peningkatan kemitraan, tidak sekadar pada tataran politik, melainkan juga sektor ekonomi, tenaga kerja ahli, iklim, sains, hingga kebudayaan.

Di sisi lain, Duta Besar Jerman untuk Indonesia, Ralf Beste, menuturkan bahwa penguatan relasi tersebut berlangsung di tengah cepatnya perubahan tatanan dunia. 

Melalui Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia dan Uni Eropa (I-EU CEPA), ia memproyeksikan peningkatan ekspor serta investasi dua arah bagi kedua negara.

“Lonjakan harga minyak dan gas global yang terbaru juga menunjukkan bahwa kami memerlukan transisi ke energi terbarukan tidak hanya untuk melindungi iklim, tetapi juga untuk menjamin ketahanan energi,” tuturnya.

Ia menambahkan, Kemitraan Transisi Energi Berkeadilan (JETP) yang dipimpin bersama oleh kedua negara turut berkontribusi dalam memperkokoh hubungan bilateral.

Baru-baru ini, dua kesepakatan finansial antara Indonesia dan pihak lembaga Jerman telah disahkan. Perjanjian tersebut difokuskan untuk memperbaiki kondisi guna mendorong perdagangan dan investasi, serta mempercepat transisi energi terbarukan yang adil.

Kesepakatan pertama memprioritaskan perbaikan kondisi bagi pertumbuhan ekonomi dan investasi dengan nilai 400 juta euro (sekitar Rp8,2 triliun). 

Perjanjian ini diteken oleh Bank Pembangunan Jerman KfW bersama Kementerian Keuangan RI, di bawah Program Daya Saing, Modernisasi Industri, dan Percepatan Perdagangan (CITA). 

Program tersebut disusun untuk menyokong agenda reformasi ekonomi Indonesia demi meraih pembangunan yang berkelanjutan dan inklusif, sesuai standar perdagangan internasional.

Kesepakatan kedua bertujuan mendukung pembangunan pembangkit listrik serta jaringan listrik terbarukan senilai 302 juta dolar AS (sekitar Rp5,35 triliun). 

Perjanjian tersebut ditandatangani KfW dan PT PLN (Persero) dalam naungan Program Mempercepat Transisi Energi Bersih Indonesia. Program ini dirancang guna mengakselerasi transisi energi melalui integrasi pengembangan energi terbarukan lewat peningkatan infrastruktur jaringan, serta ekspansi tenaga surya dan angin. 

Selain itu, program ini turut memastikan penerapan jaminan lingkungan serta transisi yang adil bagi seluruh pemangku kepentingan.

Inisiatif tersebut merupakan kontribusi Jerman terhadap JETP bersama Indonesia, di mana Jerman telah mengambil peran kepemimpinan bersama Kelompok Mitra Internasional (IPG) dengan Jepang sejak awal 2025. 

Menurut keterangan tersebut, Jerman berkomitmen mengalokasikan dana sekitar 1 miliar euro (sekitar Rp20,5 triliun) untuk kerja sama pembangunan pada 2026.

Pada Februari 2026, dua perjanjian finansial lainnya juga telah disetujui, disaksikan oleh Menko Perekonomian Airlangga Hartarto dan Direktur Jenderal untuk Asia, Eropa Tenggara dan Timur, Timur Tengah, serta Amerika Latin dari Kementerian Federal Jerman untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (BMZ), Christine Toetzke. 

Perjanjian ini terkait proyek Green Energy Corridors Sulawesi (GECS) dan Green Bond Development Facility (GBDF) dengan total nilai 308 juta euro (sekitar Rp6,33 triliun).

Proyek GECS bakal membangun saluran transmisi 275kV melintasi Sulawesi Selatan guna membuka potensi energi terbarukan di wilayah tersebut. Sementara itu, GBDF memperkuat pasar obligasi hijau Indonesia untuk menarik investasi berkelanjutan. 

Secara kolektif, inisiatif-inisiatif ini menandai pencapaian signifikan dalam implementasi JETP, yang mengubah komitmen kemitraan menjadi aksi konkret dan kemajuan terukur demi mewujudkan masa depan energi bersih di Indonesia.

Terkini