JAKARTA - PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) kini mengandalkan taktik pemilihan proyek yang lebih cermat, pengetatan biaya, dan efisiensi di lapangan demi mempertahankan performa bisnis.
Hal ini dilakukan guna menyikapi penurunan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS serta naik-turunnya harga energi dunia yang berisiko membebani biaya konstruksi.
Corporate Secretary WIKA, Ngatemin, menyampaikan bahwa pihaknya terus mencermati pergerakan nilai tukar dan harga energi karena hal tersebut bisa berdampak langsung pada biaya proyek, khususnya untuk komponen energi, logistik, material industri, serta alat-alat konstruksi.
Guna meminimalisasi pengaruh kenaikan biaya tersebut, WIKA memperkuat upaya mitigasi melalui efisiensi operasional, pengendalian pengeluaran, optimalisasi arus kas, dan penguatan manajemen risiko pada semua proyek yang sedang berjalan.
Perseroan pun terus menjalin koordinasi dengan pihak pemberi kerja agar pengerjaan proyek bisa berlangsung sesuai jadwal di tengah kondisi pasar yang dinamis. Selain mengutamakan efisiensi, WIKA kini semakin selektif dalam mengejar kontrak baru.
Upaya ini dilakukan untuk menjaga mutu pertumbuhan bisnis sekaligus memastikan kondisi arus kas tetap sehat di tengah kompetisi proyek yang kian ketat.
“WIKA menerapkan four eyes principle dan prinsip selektivitas dalam mengikuti tender dan memperoleh proyek baru, dengan fokus pada proyek yang memiliki skema pembayaran bulanan, tingkat risiko yang terukur, serta mampu memberikan nilai tambah bagi perseroan,” ujar Ngatemin.
Strategi tersebut merupakan salah satu kunci WIKA untuk menjaga profitabilitas di tengah tingginya tekanan biaya konstruksi. Perseroan memprioritaskan proyek-proyek yang memiliki profil risiko terkendali serta mekanisme pembayaran yang mendukung likuiditas perusahaan.
Meskipun menghadapi tantangan dari pelemahan rupiah dan mahalnya biaya energi, WIKA menegaskan bahwa target bisnis tahun 2026 masih berjalan sesuai perencanaan. Perseroan tetap yakin terhadap pencapaian kontrak baru dan kinerja operasional sepanjang tahun ini.
Hingga April 2026, WIKA telah mencatatkan kontrak baru senilai Rp5 triliun. Kontribusi terbesar disumbang dari segmen Energy & Industrial Plant sebesar 41,59%, disusul segmen Industry sebesar 28,79%, Infrastructure & Building 25,12%, serta Property & Investment sebesar 4,49%.
Melalui kombinasi strategi efisiensi, mitigasi risiko, dan selektivitas proyek, WIKA menargetkan mampu menjaga pertumbuhan usaha yang berkelanjutan serta mencapai target kontrak baru, pendapatan, dan laba sepanjang tahun 2026.