Impor Tinggi, Industri Plastik Efisiensikan Biaya Operasional

Selasa, 16 Juni 2026 | 20:12:31 WIB
PT ExxonMobil Lubricants Indonesia (EMLI). (Foto: NET)

JAKARTA – Sektor industri plastik dan kemasan di dalam negeri hingga kini masih mengalami tekanan pada ongkos produksi akibat ketergantungan yang besar terhadap pasokan bahan baku impor serta hambatan rantai pasok di tingkat global. 

Situasi ini memicu para pelaku usaha untuk memikirkan beragam strategi dalam memangkas biaya operasional demi mempertahankan daya saing pasar.

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), angka impor untuk komoditas plastik beserta produk turunannya menyentuh kisaran US$ 2,55 miliar sepanjang triwulan pertama tahun 2026. Mayoritas dari komoditas yang diimpor tersebut adalah bahan baku utama yang sangat diperlukan oleh sektor manufaktur domestik.

Di waktu yang sama, Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Indonesia memperlihatkan tren positif pada Mei 2026 yang mengindikasikan adanya pemulihan aktivitas pabrik setelah sempat berada di zona kontraksi. 

Kendati begitu, beban yang dipikul sektor industri ini dinilai tetap berat karena faktor inflasi serta hambatan logistik global yang mengerek ongkos produksi.

Presiden Direktur PT ExxonMobil Lubricants Indonesia (EMLI) Syah Reza menjelaskan bahwa langkah efisiensi pada pos operasional merupakan salah satu bagian yang bisa dikontrol secara langsung oleh manajemen perusahaan demi menjaga kelangsungan usaha di tengah situasi yang menantang ini.

“Upaya efisiensi operasional menjadi salah satu fokus yang dapat langsung dikendalikan para pelaku industri. Salah satu upaya efisiensi operasional ini dapat dilakukan melalui optimalisasi pelumasan sintetis, hal ini menjadi langkah strategis dan nyata untuk meningkatkan keandalan peralatan produksi, menekan downtime, meningkatkan efisiensi energi, menjaga stabilitas produksi, serta mengendalikan operasional secara lebih konsisten,” ujar Syah Reza dalam keterangannya, Kamis (11/6/2026).

Ia berpendapat, pemaksimalan sistem pelumasan kini krusial lantaran persentase kerusakan mesin pabrik yang melebihi 60% dipicu oleh metode pelumasan yang keliru. Masalah seperti ini berisiko membengkakkan anggaran perbaikan sekaligus menghambat kontinuitas proses manufaktur.

Berdasarkan catatan EMLI, pemanfaatan pelumas sintetis mampu menghadirkan sederet keuntungan bagi sektor industri, di antaranya menurunkan temperatur kerja mesin hingga 8,3 derajat Celsius yang berdampak pada masa pakai pelumas menjadi dua kali lebih awet. 

Bukan hanya itu, varian pelumas ini diklaim bisa menghemat penggunaan daya energi sampai 10% dan membuat usia pakai mesin produksi menjadi lebih panjang.

Ditinjau dari aspek operasional, mesin yang semakin andal dipercaya dapat meminimalkan sisa buangan produksi serta mengurangi durasi kontak langsung antara pekerja dengan mesin saat proses perawatan berkala dilakukan.

Guna mendukung program penghematan tersebut, EMLI menyediakan fasilitas pengecekan serta telaah pelumas lewat program Mobil Lubricant Analysis (MLA) dan platform MACHINEXT yang dirancang khusus untuk mempermudah pelaku industri memantau kondisi aset mereka secara presisi.

Syah Reza menilai, perpaduan antara pemilihan produk pelumas yang ideal dengan sistem monitoring yang akurat dapat mendukung pelaku usaha dalam mempertahankan ritme produksi sekaligus mengontrol anggaran operasional untuk jangka panjang.

"Optimalisasi penggunaan pelumas yang didukung oleh sistem pemantauan dan manajemen yang tepat akan menjadi faktor penting dalam menjaga efisiensi biaya dan stabilitas produksi di masa depan," ujarnya.

Ia menyimpulkan, penguatan efisiensi di lini operasional bakal menjadi kunci utama bagi para pelaku industri plastik dan kemasan agar tetap kompetitif menghadapi ketidakpastian situasi ekonomi dunia serta lonjakan biaya produksi.

Terkini